ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Kekayaan seorang Pemimpin

Minggu, 27 Desember 2009 0 komentar


Setelah bertahun-tahun berjuang dan mengalami penderitaan, misi suci Rasulullah Muhammad saw. akhirnya meraih kejayaan di semenanjung Arab. Panji-panji Islam berkibar di wilayah-wilayah yang luas meliputi cakrawala Persia dan Syria. Harta yang berlimpah ruah mengalir ke Madinah dari berbagai negeri persemakmuran Islam.

Di antara putra-putri Rasulullah, hanya Fatimah yang masih hidup saat itu. Sang ayah sangat mencintai putri satu-satunya itu. Setiap kali Fatimah datang, Rasulullah selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang. Demikan pula halnya dengan Fatimah, setiap kali ayahnya datang, ia selalu merebahkan dirinya dalam dekapan sang ayah kemudian Rasulullah mendudukkan Fatimah di samping beliau sembari menyeka keringat yang membasahi wajah putri beliau dengan sapu tangannya atau meraba dahi putrinya untuk mengecek kesehatan sang putri.

Suatu hari Fatimah datang menemui Rasulullah. Setelah saling menanyakan kabar dan kesehatan masing-masing, Fatimah berkata kepada sang ayah dengan nada letih, “Ayah, terlalu banyak mulut yang harus disuapi di rumahku. Aku dan suamiku, tiga putra kami, empat keponakan, seorang pembantu, belum lagi tamu-tamu yang datang silih berganti. Aku harus memasak sendirian untuk mereka semua. Aku merasa sangat letih dan kecapekan. Aku mendengar banyak tawanan wanita yang baru saja datang ke Madinah. Jika ayah bersedia memberiku salah seorang dari mereka untuk membantuku, itu akan menjadi pertolongan yang sangat berharga bagiku.”

“Sayangku, semua kekayaan dan tawanan perang yang engkau lihat adalah milik masyarakat muslim. Aku hanyalah bendahara, tugasku adalah mengumpulkan mereka dari berbagai wilayah dan membagi-bagikan mereka kepada orang-orang yang miliki hak atas itu semua. Dan engkau bukan termasuk yang memiliki hak, wahai anakku, oleh karena itu aku tidak bisa memberimu sesuatu pun dari kekayaan negara ini,” jawab Rasulullah dengan suara parau.

Kemudian beliau melanjutkan, “Dunia ini adalah tempat untuk beramal maka lakukan tugas-tugasmu dengan baik. Jika engkau merasa lelah, ingatlah Allah dan mintalah pertolongan kepada-Nya niscaya Dia akan memberimu ketabahan dan kekuatan.”

Read full post >>

Wanita berhati emas

Minggu, 25 Oktober 2009 0 komentar


Pada suatu hari, Hasan dan Husain – cucu Rasulullah saw – menderita sakit parah. Menghadapi kondisi ini kedua orang tua mereka - Ali dan Fatimah putri Rasulullah - sangatlah kebingungan. Melihat ondisi kedua putranya Ali dan Fatimah ra. pun bernazar jika atas kemurahan Allah swt. kedua putra mereka kelak sembuh maka mereka akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

Allah swt. mendengar doa Fatimah dan Ali sehingga tidak lama setelah itu Hasan dan Husain pun kembali pulih kesehatannya. Dengan diliputi perasaan gembira kedua orang tua merekapun memulai puasa nazar mereka.

Matahari turun di ufuk barat dan hari pertama puasa mereka pun berakhir. Ali dan Fatimah berbuka puasa dengan segelas air dan kemudian melaksanakan shalat maghrib. Tatkala mereka tengah bersiap-siap menyantap makanan berupa sedikit roti gandum tiba-tiba terdengar suara ratapan seseorang. ‘’Demi cintaku kepada Allah, sembuhkanlah rasa laparku dan selamatkanlah keluargaku dari kelaparan.’’

Fatimah melirik ke arah suaminya dan berkata, ‘’Bagaimana mungkin kita menampik permintaan pengemis itu sementara kita makan hingga kenyang?’’

Ali menyetujui pendapat istrinya. Merasa gembira dengan reaksi suaminya, Fatimah mengemas semua roti dan bergegas menuju pintu untuk memberikan roti itu kepada si pengemis. Dan pada malam hari itu tak seiris roti pun melewati mulut mereka.

Hari kedua puasa tiba dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Setelah menunaikan shalat maghrib, mereka bersiap-siap menyantap sedikit roti untuk berbuka. Belum lagi bibir mereka menyentuh roti, lagi-lagi terdengar suara meratap meinta-minta.

Segera Fatimah bergegas membuka pintu dan diambang pintu ia melihat dua anak yatim yang tengah meminta-minta makanan dengan suara penuh iba. Kembali pemandangan itu menyentuh hati Fatimah. Dengan suara penuh kelmbutan Fatimah kembali berkata kepada Ali suaminya, ‘’Sudah menjadi perintah Allah dan Rasul-Nya bahwa kita seyogyanya membantu orang-orang miskin. Biarkan kedua anak yatim itu memakan makanan kita!’’

Terpacu oleh semangat istrinya untuk menolong dua anak yatim tersebut, Ali menyetujui kata-kata istrinya dan merekapun melewatkan malam yang kedua tanpa menyantap sesuap makanan pun.

Dengan semangat yang kukuh, Ali dan Fatimah memenuhi kewajiban puasa nazar mereka di hari berikutnya.

Rasulullah saw. sangat berbahagia tatkala mendengar sekelumit kisah ini sebab ia telah menjadi ayah dari seorang wanita yang berhati emas.

Read full post >>

Siluet Jiwa

Rabu, 15 Juli 2009 0 komentar


Andai bisa, ingin diri ini kembali ke saat itu. Saat yang sangat singkat namun juga sangat menyenangkan. Saat jiwa ini melanglang ke puncak langit hingga terasa begitu dekat dengan Sang Khalik. Saat dimana detak jantung dan hembusan napas jelas terdengar mengiringi setiap langkah, menyuarakan napas kebebasan. Belenggu kegalauan, kecemasan dan rasa takut seketika pudar tergantikan oleh ketenangan yang tiada tara. Saat itu senandung jiwa terus terlantun mengucap harap pada sang pencipta, Ya Alloh, biarkanlah rasa ini menyelubungi hati hamba lebih lama.

Dan rasa itupun berangsur pudar seiring berhembusnya hawa nafsu dalam diri, yang memperbudak jiwa agar mengendus kenikmatan duniawi. Sesaat jiwa ini terlena, terbuai oleh kesenangan berujung sesal hingga kecemasan pun kembali merantai diri.

Namun rasa itu masih tersimpan dalam diri seakan mencari peluang untuk kembali, menanti dan terus menanti, berharap agar raga ini kembali bersimpuh dihadapan-Nya sehingga ia dapat kembali menaungi hati.

Kian hari jejak sang rasa kian tak pasti seiring bertahtanya nafsu dalam diri. Sang nafsupun kerap menghembuskan kata-kata dalam hati bahwa jiwa ini telah terbeli, tak ada guna menggapai sang rasa yang tak pasti, bagai menggapai puncak gunung tak berujung, tak ada guna terus mendaki bila kenikmatan duniawi senantiasa tersaji.

Lambaian perpisahan tak lagi mengiris hati dan dalam lelap sang rasa pun berbisik,

Duhai sang jiwa, lihatlah dirimu kini! Dahulu kau mulia kini kau sengsara, dahulu kau bahagia kini kau menderita, dahulu hatimu tentram kini hatimu galau, dahulu ucapanmu bermakna kini ucapanmu sia-sia, dahulu pandanganmu selamat kini pandanganmu khianat, dahulu niatmu tulus kini niatmu bulus, dahulu langkah kakimu mengundang rahmat kini langkah kakimu terlaknat, dahulu kau tak takut mati kini banyak hal yang kau takuti.

Kutinggalkan sejumput diriku di dasar hatimu, sebagai imbalan atas jerih payahmu saat meraihku dulu. Ingatlah pula satu pesanku, janganlah kau mati saat begini.

Duhai sang rasa, raihlah jiwa ini, rengkuhlah ia erat-erat, agar nafsu tak sanggup lagi melekat ...

Read full post >>

Tabiat seorang pemimpin

Kamis, 02 Juli 2009 0 komentar


Sudah menjadi kebiasaan Khalifah* Umar bin Khattab melakukan penyamaran di malam hari, berkeliling ke pelosok-pelosok desa untuk mengamati keadaan rakyatnya secara langsung. Pada suatu malam beliau pergi ke pelosok dengan ditemani Abdurrahman bin Auf. Tatkala melewati suatu tempat di tengah padang pasir, dari kejauhan beliau melihat seperti ada sebuah api unggun. Setiba disana ternyata bukanlah api unggun yang beliau dapati melainkan seorang ibu yang seolah-olah sedang memasak makanan untuk anak-anaknya yang terus merengek karena lapar. Anak-anak dari wanita itu terus menangis tidak mau tidur karena tidak kuat menahan lapar. Umar lalu mendekati dan mengucapkan salam, kemudian bertanya kepada ibu yang miskin itu, "Mengapa engkau melakukan ini, berpura-pura memasak, kepada anak-anakmu?" Ibu itu hanya menjawab, "Semoga Allah menyadarkan Umar. Pantaskah ia menjadi Amirul Mu'minin sementara ia tidak tahu keadaan rakyatnya?!"

Mendengar perkataan ibu itu Umar tersentak. Ia menunduk sedih dan dengan rasa duka yang mendalam ia segera pergi ke Baitulmal. Sepanjang perjalanan ia menangis seraya beristighfar sebab ternyata dirinya belum bisa memenuhi amanah yang dipikulnya sebagai Amirul Mu'minin. Sepanjang jalan ia memohon ampun kepada Allah swt atas kelalaiannya.

Sesampai di baitul mal Umar segera membuka pintu dan mengambil sekarung gandum, sewadah minyak goreng dan madu. Ia panggul sendiri bahan-bahan makanan itu. Penjaga Baitul mal tertegun dan bingung melihat Umar seperti sedang sedih sekali. Maka dia bertanya, "Ada apakah wahai Amirul Mu'minin?" Tetapi Umar hanya berkata, "Tolong naikkan barang-barang ini ke pundakku." Penjaga Baitul Mal semakin tertegun, dia berkata, "Biarlah aku saja yang akan membawanya wahai Amirul Mu'minin." Namun Umar menjawab perkataan itu dengan nada agak keras, "Apakah engkau mau aku menanggung dosa lebih banyak lagi?!" Dibawanyalah sendiri barang-barang itu oleh Umar Ra dengan langkah cepat. Sesampai di tempat ibu yang miskin itu Umar meletakkan bahan-bahan makanan tersebut, bahkan ia yang mengolah dan memasak makanannya sendiri. Setelah matang Umar menyuapi anak-anak yatim itu hingga mereka kenyang dan tidak menangis lagi. Umar amat lega menyaksikan anak-anak itu akhirnya terbebas dari kelaparan.

Setelah itu barulah dia bangkit hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. Ibu dari ketiga anak-anak yatim itu berkata kepada Umar, "Demi Allah, engkau lebih pantas menjadi Khalifah ketimbang Umar."

Sebelum pergi meninggalkan mereka, Umar berpesan kepada ibu itu, "Wahai ibu, datanglah besok ke tempat kekhalifahan dan adukanlah hal-ihwalmu kepadanya ..." Tatkala Umar yang ditemani Abdurrahman bin Auf hendak pergi, Umar diam sejenak dan bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia mengamati ketiga anak itu makan dengan lahapnya. Karena udara begitu dingin hingga menusuk tulang, Abdurrahman mengajaknya untuk lekas pulang. Tetapi Umar tidak bergeming dari tempatnya. Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku lihat anak-anak itu tertawa dan bergembira!"

Keesokan harinya Ibu anak-anak itu datang ke kekhalifahan. Tatkala memasuki ruang kekhalifahan ia amat terkejut melihat lelaki yang memanggul karung bahan makanan semalam duduk di tengah-tengah Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud Ra. Keduanya menyapanya dengan panggilan, "Ya, Amirul Mukminin!" Ketika tahu bahwa ternyata orang yang semalam itu adalah Amirul Mukminin sendiri, si Ibu tertegun dan amat ketakutan karena khawatir keluh kesah dan serangannya akan dipersalahkan. Tetapi Umar segera menghiburnya, dia berkata dengan ramah, "Wahai Ibu, jangan bersedih hati dan khawatir. Berapa ibu ingin menjual keluh kesah kepadaku?" Namun Ibu itu tidak menjawab pertanyaan Umar, ia berkata dengan nada ketakutan, "Aku mohon maaf, ya Amirul Mukminin."

Umar berkata lagi, "Engkau tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum menjual keluh kesahmu kepadaku..." Akhirnya transaksi jual beli keluh kesah itu terjadi dengan harga 600 dirham. Umar membayarnya dari uang pribadinya dan memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib Ra untuk membawa kertas dan pena untuk menuliskan : "Kami Ali dan Ibnu Mas'ud menjadi saksi bahwa Fulanah telah menjual keluh kesahnya kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab." Sesudah transaksi usai, Umar berkata, "Kalau aku meninggal dunia, masukkanlah kertas itu dalam kafanku sehingga aku menemui Allah Ta'ala dengan kalbu yang bersih dari kezhaliman."
*) Amirul Mukminin = Pemimpin kaum mukmin = Khalifah.

Read full post >>

Kesabaran tiada batas

Minggu, 28 Juni 2009 0 komentar


Tersebutlah Urwah bin Az Zubair Ra. - seorang tabi’i putera Asma binti Abi Bakar Asshidiq Ra. – yang tengah menderita penyakit kanker pada tulang betisnya. Para tabib menasehatinya supaya kaki tersebut dipotong saja hingga lutut.

Urwah menerima takdir Allah Ta’ala dan menyetujui nasehat tabib agar kakinya dipotong. Sebelum operasi dimulai para tabib memerintahkan supaya Urwah menggunakan madat sebagai obat bius agar saat kakinya dipotong dirinya tidak terlampau merasa sakit. Akan tetapi perintah para tabib tersebut ditolak Urwah, dengan berkeras hati ia berkata, “Na’udzubillah! Tidak mungkin aku menggunakan madat untuk menghilangkan pikiranku dari memikirkan keagungan Allah Ta’ala.”

Tentu saja para tabib memprotes ketidakmauan Urwah tersebut, “Lalu bagaimana kami bisa melakukan operasi bila engkau tidak menggunakan madat?”

Urwah memberikan jalan keluar kepada para tabib tersebut, “Biarkanlah aku mendirikan sholat. Ketika aku sudah bertakbiratul ihram bersiap-siaplah kalian dengan peralatan kalian, kalau aku sedang duduk membaca syahadat mulailah kalian memotong kakiku. Pada waktu itu, InsyaAllah aku tidak sedang memikirkan dunia dan aku akan melayangkan sukmaku ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Hingga akhirnya pekerjaan amputasi itu berhasil dengan baik walaupun Urwah merasa lemas tidak bertenaga karena tubuhnya banyak mengeluarkan darah. Sesaat setelah operasi dilaksanakan Urwah memanggil putera sulungnya. Namun tidak seperti biasanya Urwah tidak mendapat jawaban atas panggilan terhadap putera sulungnya tersebut, sehingga Urwah pun mengeluh, “Innalillah, belum pernah aku memanggilnya lalu dia tidak segera datang. Ada apa gerangan dengan puteraku itu?”

Tak berapa lama kemudian beberapa orang mengabarkan kepada Urwah bahwa puteranya mengalami musibah, ia terjatuh dari atap rumahnya hingga meninggal. Banyak orang yang seketika menghampirinya untuk menyatakan duka cita kepada Urwah atas kematian puteranya.

Urwah memegang kakinya yang baru saja dipotong seraya berkata, “Ya Robbi, Engkau telah menganugerahkan dua kaki kepadaku. Engkau telah mengambil kembali yang sebuah dan meninggalkan kepadaku yang sebuah lainnya. Aku panjatkan puji kepada-Mu atas apa yang telah Engkau ambil kembali dan aku panjatkan syukur kepada-Mu atas apa yang Engkau tinggalkan kepadaku. Engkau telah menganugerahkan kepadaku dua orang putera. Engkau telah mengambil yang sulung dan meninggalkan yang bungsu kepadaku. Aku panjatkan puji kepada-Mu atas apa yang telah Engkau ambil kembali dan aku panjatkan syukur kepada-Mu atas apa yang Engkau tinggalkan.”

Sesaat setelah mengakhiri kalimatnya Urwah memegang dan membalut kakinya yang baru saja dipotong seraya berkata, “Alhamdulillah, aku tidak pernah membawamu ke tempat-tempat yang tidak diridhai Allah Ta’ala.”

Read full post >>

Buah dari kezhaliman

Sabtu, 21 Februari 2009 0 komentar


Dari Amr bin Dinar ia berkata; tatkala seorang Bani Israil sedang bersantai di tepi laut tiba-tiba datang seorang lelaki yang berteriak-teriak dengan suara lantang, “Ingatlah! Barang siapa melihat apa yang terjadi pada diriku maka ia akan dapat mengambil pelajaran. Dan aku peringatkan kepada kamu, janganlah kamu menganiaya siapapun!” Setelah seorang Bani Israil mendengar ucapan lelaki itu, iapun segera mendekatinya lalu berkata, “Wahai hamba Allah! Mengapa anda berkata demikian? Apa sesungguhnya kesalahan yang telah anda lakukan?”

Orang itu menjawab, “Ketahuilah, dulu aku seorang polisi. Pada suatu hari aku pergi ke tepi laut dan aku melihat seorang nelayan yang sedang membawa ikan. Kemudian aku meminta ikan itu tetapi si nelayan tidak memberikannya. Pada akhirnya akupun menawarkan untuk memberi ikan itu tetapi ia tetap menolaknya. Maka aku pukul nelayan itu dengan pecutku dan aku rampas ikannya. Hingga nelayan itu pun pergi. Di luar dugaanku tiba-tiba ibu jariku terasa sakit karena digigit ikan tersebut. Aku coba melepaskan gigitannya tapi sia-sia. Hampir saja aku merasa putus asa namun akhirnya ikan itu lepas juga. Beberapa saat kemudian ibu jariku pun bengkak akibat gigitannya. Aku pun pergi ke dokter untuk memeriksakannya dan setelah diperiksa, dokter itu berkata bahwa penyakitku tidak akan sembuh kecuali jika ibu jariku dipotong dan jika aku tidak mau maka hal itu dapat membawa pada kematianku. Aku mengikuti nasehat dokter itu. Aku memutuskan untuk memotongnya. Lama kelamaan penyakit itu menular ke telapak tanganku hingga karena menhan rasa sakit aku tidak dapat tidur dengan nyenyak. Aku pergi ke dokter untuk kedua kalinya. Ia memeriksa penyakitku. Setelah itu ia menganjurkan aku memotong telapak tanganku. Dalam memutuskan keputusan yang kedua ini terasa berat bagiku walau akhirnya aku lakukan juga.

Selang beberapa hari penyakitku naik ke tangan sehingga menyebabkan aku gelisah, makan tak enak tidur tak nyenyak. Jalan terakhir aku tempuh dengan memotong tanganku. Ternyata penyakitku masih juga menular ke lengan. Lenganku dipotong hingga batas bahu. Dan ketika lenganku dipotong ada seseorang bertanya kepadaku, “Apakah sebab penyakitmu itu?” Aku jawab dan aku beritakan tentang ikan itu kepadanya. Lalu ia berkata, “Andai anda segera minta maaf pada si nelayan ikan itu niscaya anda tidak akan sampai memotong lengan anda itu. Kini kuanjurkan, segeralah pergi mencari nelayan itu dan mintalah maaf sebelum penyakit itu menjalar ke seluruh tubuh anda.”

Maka alu cepat-cepat mencari nelayan itu untuk meminta maaf atas kesalahanku. Dan ketika aku bertemu dengannya aku segera mencium kakinya sambil menangis, lalu aku berkata, “Tuan, aku datang untuk meohon maaf kepadamu.” Nelayan itu bertanya, “Siapa anda?” Akupun menjawab bahwa aku adalah orang yang merampas ikannya dulu. Lalu kuceritakan secara panjang lebar semua yang terjadi pada diriku. Kuperlihatkan pangkal lenganku yang telah putus sehingga ia menangis seraya berkata, “Aku maafkan segala kesalahan anda.” Setelah itu aku bertanya, “Apakah anda berdo’a kepada Allah ketika ikan-ikan itu kurampas?” Ia menjawab, “Ya saya berdoa; ‘Ya Allah, orang itu telah menganiayaku dengan kekuasaannya atas kelemahanku, maka balaslah ia dan datangkanlah padaku bukti atas kekuasaan-Mu terhadap orang itu.’” Aku menjawab, “Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya kepadamu terhadap diriku.” Sekarang aku bertaubat pada Allah atas segala kesalahanku.”

Read full post >>

Bekerja sampai ke negeri Cina (bagian 2)

Minggu, 25 Januari 2009 0 komentar


Beruntung hari ini saya tidak dijemput oleh Bob, rekan kerja saya. Sebagai gantinya Bob mengirim mobil Buick terbaru yang dikendarai oleh seorang supir yang sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Kondisi ini saya manfaatkan untuk berdiam diri sambil mengamati kondisi jalan raya serta melihat-lihat pemandangan yang kami lalui.

Tata letak gedung maupun jalan raya di kota itu benar-benar rapi. Unsur alami berupa taman, bukit kecil dan pantai tidak hanya dipertahankan tetapi juga dipercantik sehingga kota ini menjadi salah satu kawasan wisata bagi penduduk negeri Cina.

Selama empat puluh menit perjalanan dari hotel menuju ke kantor, tidak sekalipun kami terjebak kemacetan (hal yang sama saya perhatikan juga berlaku di arah sebaliknya), padahal saat itu jam menunjukkan angka 08.45, saat dimana beribu-ribu pengendara maupun pejalan kaki tengah menempuh perjalanan menuju tempat kerja mereka. Selama perjalanan saya bahkan sempat melihat beberapa mobil yang langsung berbalik memutar arah tanpa menemui kesulitan. Suatu kondisi yang nampaknya mustahil dilakukan oleh para pengendara mobil di negeriku tercinta.

Disamping pemandangan yang indah dan sejuk, kota itu juga bersih. Tatkala saya sibuk memutar otak mengapa di kota ini kita sulit menemukan onggokan sampah, Alloh swt memberikan jawaban-Nya kepada saya. Seorang wanita melintas di pinggir jalan dengan mengendarai sepeda kayuh, sesekali ia menghentikan kayuh sepedanya untuk memungut sejumput sampah di jalanan. Dengan menggunakan kayu pencapit wanita itu memasukkan setiap sampah yang ia dapat ke kantung plastik yang terpasang rapi di sepedanya. Namun saking bersihnya jalanan aksi pungut sampah semacam itupun jarang ia lakukan.

Hal yang agak janggal ditemui di wilayah perkotaan pada jam sibuk bekerja adalah terlihatnya sekelompok orang yang tengah menikmati indahnya pemandangan laut serta taman yang menghiasi trotoar jalan. Mereka tampak asyik menikmati keindahan alam tanpa terpengaruh oleh lalu lalang bis umum yang mengangkut puluhan penumpang. Melihat cara mereka menikmati keindahan alam serta menghirup udara pagi ternyata mampu menghadirkan efek tenang di hati saya, ''ternyata tidak semua orang tengah 'dikejar oleh sesuatu' di pagi itu''.

Memasuki wilayah perkantoran yang berada di kawasan berikat, waktu telah menunjukkan pukul 08.30. Hanya satu ucapan saya yang saya rasa bisa dipahami oleh si pengendara mobil selama saya menumpang, 'sye sye' dan dia pun menjawab dengan kalimat yang tidak saya pahami. Melewati meja resepsionis, Carrie menyapa saya dan sayapun balas menyapanya. Sebelum saya sempat bertanya tentang pesanan saya, dia lebih dulu memberi penjelasan.

''Edwin, I put your order - the man thou - on your table. Hope you enjoy the food.''

Setelah mengucap terima kasih kepadanya, saya bergegas menuju meja saya di lantai tiga. Sesaat saya tertegun tatkala mendapati enam potong makanan di dalam plastik transparan diatas meja saya. Setelah mengeluarkan salah satu diantaranya dari dalam plastik dan mengamati dengan lebih seksama yakinlah saya bahwa di negara saya makanan itu bernama 'bak paw'. Sayangnya keenam bak paw ini tanpa isi. Saya mulai memutar otak untuk menemukan paduan makanan yang cocok dengan bak paw tanpa rasa ini, pastinya makanan ini tidak bisa saya nikmati tanpa dipadu dengan makanan lain. Tapi makanan apa yang cocok disandingkan dengannya? Senyum lebar menghias wajah saya tatkala seorang pelayan menawari saya secangkir kopi.

Setelah saya coba memadukan bak paw kosong itu dengan kopi manis, saya harus mengakui bahwa rasanya sedikit aneh. Tapi rasa aneh itu makin terasa ketika Li Geng dan seorang temannya memergoki saya yang tengah berusaha menikmati makanan itu. Ah, masa bodoh, yang penting saya nggak kelaparan!

Di waktu istirahat saya tidak bergabung dengan Bob untuk mengambil makan siang di kantin, sebagai gantinya saya menyiapkan diri untuk melaksanakan shalat dzuhur yang sudah diniatkan akan saya jama dengan shalat Ashar. Pengalaman sulitnya mempersiapkan shalat dzuhur dan ashar di hari kemarin sudah saya antisipasi di pagi ini dengan membawa bekal berupa beberapa lembar kertas koran dan sepasang sandal plastik. Tatapan aneh memang selalu tampak di wajah mereka yang tak mengerti. Mengapa saya harus berjalan didalam kantor menuju toilet dengan menggunakan sandal plastik? Mengapa saya harus menaikkan kaki di atas wastafel untuk membasuhnya? Mengapa saya harus membenamkan kepala saya di lantai saat bersujud? Ah, biarlah saya memberi pelajaran kepada mereka bahwa hidup itu tidaklah melulu hanya bekerja atau mencari kesenangan.

Tatkala jam menunjukkan pukul empat, satu jam menjelang berakhirnya waktu kerja, perut saya kembali terasa lapar. Dengan setengah memaksa saya kembali menjejalkan sisa man thau ke mulut saya. Ingin rasanya saya segera tiba di hotel tempat saya menginap, disana saya bisa bebas memasak lalu menikmati makanan favorit saya (selama saya berada di negeri itu), apalagi kalau bukan semangkuk mie instan rebus yang sengaja saya bawa dari Jakarta. Wah nikmatnya!

Read full post >>

Rasulullah yang paling dicinta

Kamis, 22 Januari 2009 0 komentar


Saat perang Uhud berlangsung, banyak diantara sahabat Rasulullah yang gugur. Rasulullah sendiri mengalami luka parah bahkan sempat beredar kabar bahwa beliau terbunuh dalam perang tersebut. Berita yang beredar dari mulut ke mulut itu tersebar hingga ke telinga para muslimah yang berjaga di Madinah. Banyak diantara wanita Muslimah yang gusar sesaat setelah mendengar berita tersebut hingga seusai perang mereka pun segera keluar dari rumahnya untuk mendapatkan berita yang sebenarnya.

Seorang wanita Anshar melihat seorang lelaki yang baru saja datang dari medan perang dan dengan wajah dipenuhi kekhawatiran wanita itupun mendekati lelaki itu untuk menanyakan kondisi Rasulullah. Lelaki yang cukup mengenal wanita ini tidak langsung menjawab pertanyaan wanita itu tetapi terlebih dahulu memberi kabar mengenai kondisi keluarga wanita itu, “Nyonya, ayah anda terbunuh dalam perang!”

Berita yang cukup menyedihkan itu sempat membuat si wanita kaget dan jatuh sedih namun wanita Anshar itu segera mampu menguasai kesedihannya dan iapun mulai bertanya lagi, “Bagaimana kondisi Rasulullah? Apakah beliau masih hidup?”

Lagi-lagi lelaki itu tidak langsung menjawab pertanyaan si wanita, ia justru menyampaikan berita lain, “Nyonya, saudara anda juga terbunuh.”

Berita duka yang kedua sempat membuat si wanita tercengang dan kembali jatuh sedih, namun dalam hitungan detik wanita itu mampu kembali tersadar dari kesedihannya dan ia pun kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk mendapatkan kabar hal ikhwal Rasulullah. Lagi-lagi lelaki yang ditanya itu tidak langsung menjawab pertanyaan si wanita melainkan kembali ia menyampaikan berita yang lain, “Maaf Nyonya, suami anda juga gugur dalam medan perang!”

Berita duka yang ketiga sempat mengguncang perasaan wanita itu hingga ia pun tersedu dan menitikkan air mata namun untuk ketiga kalinya wanita itu kembali mampu menguasai diri. Dengan suara pilu wanita itu berkata, “Wahai pemuda, saat ini aku tidak ingin menanyakan siapa diantara anggota keluargaku yang terbunuh dan siapa diantara mereka yang masih hidup. Aku tidak menginginkan informasi itu sekarang. Tolong katakan, bagaimana kondisi Rasulullah sekarang?”

Laki-laki itu akhirnya menjawab, “Rasulullah masih hidup.”
Roman wajah wanita Anshar yang sejak tadi diliputi kesedihan itu seketika berubah jadi berseri-seri. “Kalau begitu pengorbanan keluargaku dalam membela Rasulullah tidaklah sia-sia,” ucap wanita itu dengan diiringi tangis haru.

Read full post >>