ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Undangan Makan

Sabtu, 27 Desember 2008 0 komentar


Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi adalah pemimpin Irak di masa pemerintahan Khalilifah Abdul Malik bin Marwan dari dinasti Bani Umayyah. Al-Hajjaj memiliki kebiasaan, bila hendak makan ia harus ditemani.

Pada suatu hari Al-Hajjaj pergi dengan rombongan untuk berburu di padang pasir. Ketika waktu makan siang tiba ia pun mengutus para pengawalnya untuk mencarikan teman makan baginya, akan tetapi para pengawal itu tidak menemukan siapapun selain seorang badui yang sedang tidur di kaki bukit.

Pengawal Hajjaj segera memgangunkan orang badui itu dari tidurnya. Orang badui itu bertanya pada mereka, “Mengapa kalian membangunkan aku. Semoga Allah merahmati kalian.”

“Kami mengundang anda untuk makan siang bersama Pemimpin Irak. Tahukah engkau siapa dia?” Para Pengawal Hajjaj menjelaskan.

“Ya, aku tahu. Dia adalah al-Hajjaj bin Yusuf.”

Kemudian pengawal itu membawa si badui ke hadapan Al-Hajjaj. Setiba di hadapannya, Al-Hajjaj bertanya bertanya kepadanya, “Tahukah engkau siapa aku?”

Orang badui itu menjawab dengan tenang, “Ya, aku tahu. Engkau adalah al-Hajjaj bin Yusuf, pemimpin Irak.”

Al-Hajjaj kemudian berkata lagi, “Silakan duduk, temani aku makan siang!”

Orang badui itu menjawab dengan cepat, “Maaf, aku telah menerima undangan makan dari yang yang lebih besar dari Anda.”

Al-Hajjaj penasaran, maka dia bertanya, “Siapa yang lebih besar dari aku yang mengundangmu, hai badui?”

Orang badui itu menjawab lagi, “Hari ini aku sedang shaum, dan diundang makan oleh Allah Ta’ala.”

Al-Hajjaj bertanya lagi dengan penuh keheranan, “Mengapa engkau berpuasa pada hari sepanas ini?”

“Ya Hajjaj, Aku melakukannya untuk menangkal hari yang lebih panas dari hari ini!”

Dengan setengah memaksa Al-Hajjaj terus membujuk orang badui itu, “Ya akhil arab, besok saja engkau berpuasa. Hari ini batalkanlah puasa anda dan makanlah bersamaku.”

Tetapi orang badui itu menjawab dengan tegas, “Tidak, Hajjaj! Apakah engkau tahu pasti bahwa aku akan hidup hingga besok pagi?!”

Karena Hajjaj terus menerus mendesaknya maka orang badui itu akhirnya berkata tegas, “Ya Hajjaj, sebenarnya apa yang engkau inginkan dariku?”

Al-Hajjaj menjawab dengan nada menyerah, “Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa.”

“Kalau begitu, lepaskanlah aku bersama Allah!”

Maka Al-Hajjaj pun melepaskan orang badui itu dan membiarkannya pergi.

Read full post >>

Bekerja sampai ke negeri Cina

Rabu, 17 Desember 2008 0 komentar


Ada dua hal yang sulit saya lakukan di tempat itu. Hal pertama adalah kencing. Urinator yang dilengkapi sensor human detector itu mempersulit saya untuk berbasuh seusai kencing, mau tak mau saya mesti bersembunyi sesaat dari detector agar air untuk berbasuh bisa keluar. Kalau saja saat acara kencing itu saya hanya berada seorang diri di dalam toilet, kesulitan yang saya hadapi tak akan sebesar jika ada lelaki lain di toilet itu. Bagaimana tidak, keberadaan mereka mengganggu acara 'petak umpet' saya seusai kencing. Dengan berbagai keterbatasan gerak demi memuluskan acara petak umpet itu, saya belum siap dicap sebagai orang aneh oleh mereka.

Hal kedua yang sulit saya lakukan di tempat itu (lain kata dari 'negara itu') tentu saja adalah makan. Menahan lapar tanpa diniatkan merupakan sebentuk siksaan yang relatif berat. Kondisi yang tak kalah memilukan adalah menyangkut aroma makanan yang tercium di saat kita lapar. Alih-alih semakin menambah rasa lapar, aroma makanan itu justru memancing rasa mual. Aroma asing itu seakan menusuk-nusuk lambung kita dan mendorong kita untuk muntah. Alhamdulillah masih tersaji makanan original yang bisa dijadikan tameng selama beberapa saat untuk mengatasi rasa lapar. Apalagi kalau bukan sepiring kacang tanah rebus dan tiga batang pisang ambon. Walau pilihan itu bukanlah pilihan terbaik. Siap-siap saja mendapat tatapan aneh dari berpuluh pasang mata karyawan di dalam kantin itu atas makanan yang kita pilih, (''You're not a monkey, are you?'' Pertanyaan seperti itulah yang seakan ingin mereka lontarkan kepada saya, tetapi dengan tatapan yang tak kalah galak saya pun berteriak dalam hati, ''I really don't care!''). Sebelum makan saya bahkan sempat berdo'a, ''Ya Alloh, semoga makanan ini mampu mencukupi kebutuhan energi saya hingga sore hari''.

Seusai menyantap makanan ('makanan monyet') dari kantin, saya kembali ke ruang kerja. Meja yang saya tempati nyaris berhadapan dengan meja tiga lelaki bermata sipit dan sangat sipit. Hanya seorang diantara mereka yang cukup mengenal bahasa inggris (walau saya merasa bahasa inggris saya masih lebih baik dari dia).

''So Li Geng, are you sure that there's nothing I can eat for lunch except those peanuts and bananas?''

lelaki tinggi berkulit pucat dan bermata sangat sipit itu mengernyitkan kening. Selama beberapa saat ia berdiskusi dengan ketiga lelaki lain mengenai hal ini dengan menggunakan bahasa mereka.

Mereka semuapun seketika mengernyitkan kening.

''What about KFC, do you think I may eat KFC's food?''

Selama beberapa saat Li Geng berpikir, ''K what?'' Saya memberikan penjelasan seperlunya hingga ia pun mengerti. ''I am not sure that the food in KFC does not contain pork.''

Saya tertunduk lesu.

Di tengah keheningan, tiba-tiba mata salah seorang dari mereka terbelalak dan mereka kembali berbicara dengan bahasa mereka. Sejurus kemudian Li Geng mentransfer ucapan lelaki itu, ia berkata dengan penuh semangat, ''You can eat Man Thou. It does not contain pork.''

''Man taw?''

Li Geng memberi penjelasan dengan disertai isyarat tangan, tapi sedikitpun saya tak bisa menangkap apalagi menggambarkan jenis makanan yang ia maksud, hingga akhirnya saya pun memintanya untuk menuliskan kata 'man thou' itu dalam huruf cina.

Berbekal tulisan dari Li Geng saya segera bergegas menuju meja front desk untuk menemui Carrie, gadis cina yang manis dan cukup fasih berbahasa inggris.

''Carrie, would you do me a favour? I need you to buy me this kind of food tomorrow morning nor you will see me starving to death then?'' ucap saya seraya menyerahkan kertas catatan kecil yang dituliskan Li Geng.

''Wow, Man thou!'' Sesaat mata Carrie terbelalak namun kemudian dia pun menjawab, ''Sure, I can do that.''

Saya memberinya uang kertas 20 RMB. Mata gadis itu kembali terbelalak. ''Do you want me to buy you Man Thou of 20 RMB? Wow, it's too much! Just take your money back, I can give it to you for free by tomorrow.''

''Are you sure?''

Gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum.

''You're a kind girl, thanks for your help,'' ucap saya seraya membalikan tubuh. Tak sabar rasanya mengetahui makanan seperti apa yang akan saya terima besok.

Read full post >>

Menghormati Tamu

Sabtu, 06 Desember 2008 0 komentar


Ada seorang pria datang kepada Nabi SAW, dan berkata, “Sungguh aku lapar”. Lalu nabi menyuruh salah seorang sahabat untuk menanyakan apakah ada makanan dirumah para istrinya. Tak lama kemudian sahabat itu pun kembali dan menyampaikan jawaban dari para istri Nabi yang telah ditanyainya, “Ya Rasulullah, tidak ada makanan dirumah mereka kecuali hanya air”.

Kemudian beliau bersabda, “Hai para sahabatku, mungkin diantara kalian ada yang suka menjamu orang dimalam ini?”.

Maka tampillah salah seorang sahabat anshor memberanikan diri menjamunya dan segera membawa pulang tamunya itu. Sesampainya dirumah ia berkata kepada istrinya, “Hai istriku, hormatilah tamu Rasulullah ini. Adakah sesuatu makanan padamu, hai istriku?”.
Istri sahabat anshor tersebut menjawab, “Tiada sesuatu apapun suamiku, kecuali persediaan makan malam untuk anak-anak kita”.

Lalu Sahabat anshor itu berkata kepada istrinya: “Coba hiburlah anak-anak kita hingga mereka tidur, nanti disaat tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan suguhkanlah makanan itu supaya ia mengira bahwa kita pun tengah makan bersamanya."

Alkisah duduklah mereka bertiga. Dan tamu itu pun menyantap hidangan yang disajikan hingga kenyang. Padahal semalaman keluarga sahabat anshor itu berada dalam kelaparan yang dikekang. Pagi harinya sahabat anshor tersebut menjumpai Rasul SAW dan kemudian beliau bersabda, “Sungguh Allah telah memuji perbuatanmu semalam itu dalam menghormati seorang tamu”.

Read full post >>

Renungan di awal november

Minggu, 02 November 2008 0 komentar


Kalau saja sebelum dilahirkan dulu saya tahu bahwa hidup ini berat untuk dijalani, apa saya masih mau dilahirkan ke dunia ini ya? Tapi kalau pun saya menjawab tidak, saya akan jadi apa? Kemungkinan besar saya nggak akan jadi apa-apa. Saya akan menjadi ‘sesuatu’ yang tidak pernah dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup. Selamanya akan menjadi sesuatu yang bukan apa-apa! Hiii … kondisi yang sangat mengerikan!

Kalau dipikir lebih jauh dalam menjalani kehidupan ini masing-masing dari kita bahkan bagaikan raja, sebab semua benda yang Alloh ciptakan di sekeliling kita senantiasa berbuat untuk mendukung setiap langkah kita. Matahari contohnya. Walau kadang terasa menyengat, matahari tak pernah memancarkan panas yang akan membuat kita mati, angin yang menyejukkan senantiasa bertiup lembut di sela sengatan matahari. Dan matahari pun tak pernah berinisiatif untuk memperpanjang waktu terbitnya, ia senantiasa legowo bergeser ke sisi bumi yang lain jika saatnya telah tiba, dan memberi kesempatan kepada kita untuk beristirahat. Itu baru satu contoh saja, nggak sulit untuk mencari berjuta contoh lainnya.

Satu-satunya kesalahan yang kerap berulang kita perbuat adalah lalai. Kita lalai untuk menyadari bahwa kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita musti berbagi fasilitas hidup dengan penghuni bumi yang lain, berbagi matahari, berbagi udara, berbagi tanah, berbagi air, berbagi hewan dan tumbuhan. Dan semestinya kita tidak sulit berbagi karena kita sudah diberi modal oleh Alloh untuk melakukan hal itu. Modal itu adalah hati, hati yang di dalamnya tersimpan kasih sayang.

Read full post >>

Raja yang sebenarnya

Sabtu, 01 November 2008 0 komentar


Pada suatu ketika Khalifah Harun Ar-Rasyid berkunjung ke pelosok desa Ar-Riqqah yang berjarak puluhan kilometer dari istananya di Baghdad. Pada saat yang bersamaan desa tersebut tengah kedatangan seorang ulama terkemuka yaitu Abdullah bin Mubarak yang terkenal tegas dalam membela kebenaran, beliau juga dikenal sebagai ulama yang tak segan mengritik penguasa.

Masyarakat desa berbondong-bondong menyambut kedatangan Abdullah bin Mubarak. Mereka beramai-ramai mendatangi masjid yang disinggahi Abdullah untuk meminta nasihat maupun siraman rohani. Kondisi tersebut secara otomatis menjadikan tempat menginap Khalifah Harun Ar-Rasyid terasa sunyi senyap. Khalifah pun bertanya kepada salah seorang pengawalnya, "Kemana perginya penduduk daerah ini?"

"Mereka semua berkumpul di masjid."

"Ada apa disana?"

"Seorang ulama terkenal, Abdullah bin Mubarak yang datang dari Khurasan sedang memberi ceramah dan petuah-petuah agama."

Didorong oleh rasa penasaran sang Khalifah segera menuju masjid tersebut. Di masjid itu sang Khalifah menyaksikan begitu banyak orang yang rela berdesak-desakkan untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang menyejukkan hati dari Abdullah bin Mubarak.

Pemandangan tersebut membuat sang Khalifah Harun Ar-Rasyid tertunduk hingga ia pun berkata, "Demi Allah! Sesungguhnya ulama inilah raja yang sebenarnya. Rakyat mendatanginya dengan penuh keikhlasan dan kerelaan hati. Tidak seperti Harun Ar-Rasyid, para pejabat datang kepadanya dengan menampakkan rasa hormat karena mengharap jabatan dan kekayaan."

Read full post >>

Panggilan pintu surga

Kamis, 23 Oktober 2008 0 komentar


Pada Suatu hari sesudah shalat dzuhur bersama para sahabatnya, Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, "Siapa diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?"

Abu Bakar Assidiq menjawab, "Saya, ya Rasulullah."

Lalu beliau saw. bertanya lagi, "Siapa diantara kalian yang bersedekah kepada orang miskin pada hari ini?"

"Saya, ya Rasulullah," Abu Bakar Ra menjawab lagi.

"Siapa diantara kalian yang mengantarkan jenazah pada hari ini?"

Masih jawaban Abu Bakar, "Saya, ya Rasulullah!"

Untuk yang kesekian kalinya Rasulullah masih bertanya, "Siapa diantara kalian yang mendamaikan dua orang yang berselisih pada hari ini?"

Abu Bakar menjawab lagi, "Saya, ya Rasulullah."

Maka Rasulullah saw. bersabda: "Tidak seorang mu'min pun yang melakukan perangai yang baik seperti itu melainkan ia kelak akan dipanggil dari semua pintu surga.

Abu Bakar Ra bertanya, "Bagaimana kalau semuanya dikerjakan, ya Rasulullah?"

Rasulullah saw. menjawab, "Kalau semua pintu surga memanggil umatku, tentu engkaulah orang pertama yang akan memasukinya, ya Abu Bakar ....!"

Read full post >>

Buah keshalihan

0 komentar



Tatkala seorang laki-laki shalih bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah, secara tiba-tiba dia melihat sebuah apel yang berasal dari kebun buah-buahan jatuh keluar pagar. Terbitlah air liur Tsabit saat melihat apel yang merah ranum tergeletak di tanah, apalagi ketika itu hari terasa panas menyengat dan dirinya tengah kehausan. Tanpa berpikir panjang Tsabit segera memungut dan memakan buah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya dimakan dirinya teringat bahwa buah apel itu bukanlah miliknya dan dia pun belum mendapat izin dari pemilik buah itu untuk memakannya. Maka ia segera pergi memasuki kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar si pemilik menghalalkan buah yang telah dimakannya. Tatkala dirinya bertemu dengan seorang lelaki di kebun itu langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya.” Lelaki yang ditemuinya itu serta merta menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku adalah pembantunya yang ditugaskan untuk merawat dan mengurusi kebunnya.” Dengan nada penuh penyesalan Tsabit bertanya lagi, “Dimanakah rumah pemilik kebun ini? Aku akan datang menemuinya dan minta agar dia menghalalkan buah apel yang telah kumakan ini.”

Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam.” Tsabit bin Ibrahim segera meneguhkan tekad untuk pergi menemui si pemilik kebun itu, iapun menjawab kalimat lelaki itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap menemuinya meskipun tempat tinggalnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena kumakan tanpa seizin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya: ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.’”

Setelah menempuh perjalanan sehari semalam Tsabit pun tiba di rumah pemilik kebun itu dan setibanya disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur memakan setengah dari buah apel tuan yang jatuh keluar kebun tuan, karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?” Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Selang beberapa detik secara tiba-tiba lelaki itu menjawab, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit terkejut mendengar jawaban lelaki itu, dirinya merasa khawatir dengan syarat itu karena takut tidak bisa memenuhinya. Maka segera dia bertanya, “Apa syarat itu tuan?”

Orang itu menjawab, “Engkau harus mau mengawini puteriku!” Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah hanya karena aku telah memakan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini puterimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan ucapannya, “Sebelum pernikahan dimulai terlebih daulu engkau harus mengetahui kekurangan-kekurangan puteriku itu. Dia seorang yang buta, bisu dan tuli. Lebih dari itu dia juga seorang yang lumpuh!” Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikirdalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?

Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain memenuhi syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Robbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”

Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua orang saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Seusai akad nikah Tsabit dipersilakan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak memasuki kamar pengantin dia berpikir bahwa dirinya akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu karena dirinya yakin bahwa malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…” Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit hendak menghampiri istrinya itu, wanita itupun mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak mendapati kenyataan ini. ‘Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamku dengan baik. Jika demikian wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula,’ kata Tsabit dalam hati. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita yang bertentangan dengan kondisi yang sebenarnya?

Setelah Tsabit duduk di samping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak menjadikan ridha Allah terhadapnya.” “Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini telah sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan membenarkan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala.”

Read full post >>

4 tanda orang yang celaka

0 komentar

Rasulullah saw. pernah bersabda : 4 Tanda orang yang celaka yaitu

• melupakan dosa-dosa masa lalu, padahal semuanya tercatat dengan rapi dan detail di sisi-Nya;

• selalu mengenang kebaikan yang pernah dilakukan di masa lalu, padahal belum diketahui apakah amal kebaikan itu diterima Allah atau tidak;

• dalam soal duniawi selalu memandang kepada golongan yang lebih atas (sehingga dirinya jarang bersyukur);

• dalam soal agama selalu memandang kepada golongan yang lebih rendah (ibadah dan ketaatannya kepada Allah).

Read full post >>

Pembagian hasil ladang

Sabtu, 18 Oktober 2008 0 komentar


Ketika sedang berjalan, seorang sahabat yang mulia - Abu Qallabah Ra. - melihat gumpalan awan yang berarak-arak di langit bergerak menuju suatu tempat, tak lama kemudian beliau bagaikan mendengar sebuah suara yang memerintahkan awan-awan itu : "Siramkanlah airmu ke ladang si Fulan!" Abu Qallabah begitu penasaran akan peristiwa tersebut hingga beliaupun terus berjalan mengikuti kemana awan-awan itu pergi berarak. Setelah sampai di suatu hamparan ladang, awan-awan tersebut menumpahkan air hujan seluruhnya ke ladang itu.


Setelah hujan lebat usai, Abu Qallabah berusaha menemui pemilik ladang itu. Tak lama setelah menjumpai si empunya ladang Abu Qallabah pun bertanya, "Wahai saudaraku, apa yang telah anda lakukan selama ini sehingga ladang anda begitu subur karena seringnya disirami air hujan?"


Si pemilik ladang menjawab pertanyaan Abu Qallabah dengan penuh kerendahan hati, "Wahai sahabat, yang kulakukan selama ini hanyalah; bila aku diberi karunia oleh Allah Ta'ala berupa hasil ladang, aku selalu membagi hasil panennya menjadi tiga bagian. Satu bagian kuberikan kepada fakir miskin, satu bagian untuk diri dan keluargaku, dan satu bagian lagi kupakai untuk membeli bibit untuk ditanam kembali."

Read full post >>

Lebih takut kepada manusia

Kamis, 16 Oktober 2008 0 komentar


Pada suatu hari seusai mengimami shalat Ashar, Khalifah Umar bin Khatthab Ra. menanyakan tentang kabar salah seorang sahabat yang tidak menghadiri shalat jama'ah. Salah seorang sahabat berkata, "Kabarnya dia sakit, ya Amirul Mu'minin!"

Maka Umar Ra. memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Setiba di sana ia ketuk pintu
rumahnya, dan dari dalam sahabat itu bertanya, "Siapa yang mengetuk pintu?"

Dari luar Umar menjawab, "Umar bin Khatthab!"

Mengetahui yang datang adalah Amirul Mu'minin, orang itu berlari dengan sigap untuk segera membuka pintu. tapi ketika kedua mata Umar bin Khatthab bertatapan dengan kedua mata sahabat itu, Umar bertanya dengan nada menegur, "Mengapa engkau tidak shalat jama'ah bersama kami? Padahal Allah Ta'ala telah memanggil engkau dari atas langit ketujuh: "Hayya'alasshalah!" (mari ber-shalat), akan tetapi engkau tidak menyambutnya! Sedangkan panggilan Umar bin Khattab sempat membuatmu gelisah dan ketakutan!"

Read full post >>

Memanfaatkan Fasilitas Milik Orang Lain

Minggu, 25 Mei 2008 0 komentar


Pada masa kehidupan Imam Ahmad bin Hambal, pernah datang seorang wanita kepada sang Imam yang hendak meminta fatwa atas suatu pengalaman yang baru dialami oleh wanita itu.

“Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan miskin. Saking miskinnya hingga lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena saya harus mengurus pekerjaan rumah pada siang hari maka saya hanya memiliki kesempatan untuk mencari makan bagi kami sekeluarga pada malam harinya. Yang dapat saya lakukan untuk menopang kebutuhan kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang hasil kerja saya itu selanjutnya saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu biasanya saya menunggu saat munculnya bulan karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang “ Dengan wajah bimbang wanita itu menuturkan latar belakang kehidupannya

Setelah Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan penuturan wanita itu dengan seksama, ia pun bertanya, “Apa permasalahan yang anda hadapi?”.

“Beberapa malam yang lalu lewatlah di depan rumah saya serombongan kafilah. Mereka membawa lampu-lampu yang banyak. Cahaya lampu itu demikian terang benderang sehingga mampu menerangi gelapnya malam. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sehingga tatkala rombongan mereka lewat saya pun menggunakan kesempatan itu untuk memintal beberapa lembar kapas.” Wanita itu melanjutkan kisahnya dengan wajah tertunduk penuh kekhawatiran. “Adapun yang ingin saya tanyakan adalah : Apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal di bawah cahaya lampu milik rombongan kafilah itu halal bagi saya?”

Imam Ahmad bin hambal mendengarkan kisah wanita itu dengan seksama, tercetuslah suatu kekaguman di hati Imam Ahmad atas sifat yang dimiliki wanita itu. Tak lama kemudian sang Imam pun balik bertanya. “Siapakah sesungguhnya anda wahai ummi? Anda menaruh perhatian yang demikian besar terhadap perkara agama di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kekikiran dan kelalaian terhadap harta.”

Dengan penuh kerendahan hati wanita itu menjawab, “Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah.”

Seketika jawaban wanita itu membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Ia teringat akan sosok Basyar Al Hafi, seorang gurbernur yang shalih dan mutashawwir yang lurus hati. Selama beberapa saat Imam Ahmad terpaku, seakan tidak mampu menjawab pertanyaan wanita itu. Beliau lalu berdoa dan memohon rahmat atas gurbernur yang shalih itu.

Dengan masih berlinang air mata Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Wahai ummi, sesungguhnya kain cadar yang menutup wajah anda lebih baik daripada sorban-sorban yang menutupi kepala kami. Sesungguhnya kesungguhan kami-kami ini dalam beragama tidaklah patut jika dibandingkan kesungguhan orang-orang yang telah mendahului kami. Sedangkan anda sayyidati, demikian tinggi ketakwaan dan rasa takut anda kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya tanpa izin rombongan kafilah itu maka uang hasil penjualan benang tersebut tidaklah halal bagi anda.”

Mendengar jawaban yang disampaikan Imam Ahmad, perajut benang itu tersenyum penuh keikhlasan.

Read full post >>

5 Ketergesa-gesaan yang baik

Sabtu, 17 Mei 2008 0 komentar




Hatim Al - Asham rahimahullah berkata, "Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan kecuali dalam lima hal, sebab yang lima hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. …..




  • segera memberi jamuan kepada tamu apabila ia telah masuk kedalam rumah;


  • segera mengubur mayat jika sudah jelas sebab kematiannya;


  • segera menikahkan anak perempuan jika ia sudah dewasa;


  • segera membayar hutang jika telah tiba waktu pembayarannya;


  • segera bertaubat ketika terlanjur melakukan maksiat.

Read full post >>

Melunakkan Hati dengan Sayang

Kamis, 15 Mei 2008 0 komentar


Diriwayatkan, seorang lelaki bangsa Arab bernama Tsamamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah, pergi ke kota Madinah Al Munawarah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Dengan tekad bulat dan semangat kuat ia pergi mendatangi majelis Rasulullah SAW.

Umar bin Khattab yang sudah mencium maksud jahat kedatangan orang itu segera menghampirinya dan langsung mengusut, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang Musyrik?!”

Orang itu dengan terang-terangan berkata, “Aku datang ke kota ini hanya untuk membunuh Muhammad!!”

Mendengar perkataan keji itu Umar dengan cepat dan tangkas langsung melucuti pedangnya sekaligus meringkus orng itu. Kemudian orang itu diikat di salah satu tiang masjid.

Umar bin Khattab segera melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah namun Rasulullah SAW yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam tidaklah menanggapi positif perbuatan sahabatnya itu. Rasulullah segera keluar meninggalkan rumahnya untuk menemui orang yang hendak membunuhnya. Setelah tiba di tempat yang ditunjukkan, Rasulullah mengamati wajah orang yang hendak membunuhnya, sementara itu Umar sudah tidak sabar menunggu perintahnya untuk memenggal leher orang yang bermaksud jahat itu.

Sesudah mengamati wajah orang itu dengan cermat Rasulullah lalu menoleh kepada para sahabatnya dan bertanya, “Apakah ada diantara kalian yang sudah memberinya makan?”

Umar terdiam sejenak mendengar pertanyaan tersebut. Dirinya yang sejak tadi menunggu diperintah membunuh malah ditanya tentang pemberian makan kepada orang itu. Umar seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya maka dia bertanya, “Makanan apa yang baginda maksudkan, ya Rasulullah? Makanan apa yang dia makan? Orang ini datang kesini sebagai pembunuh, bukan datang untuk masuk Islam!” namun Rasulullah tidak menghiraukan ucapan Umar bahkan beliau memerintahkan, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku dan buka tali pengikat orang itu!”

Diam-diam Umar bin Khattab memendam amarahnya yang begitu besar pada si Musyrik itu. Sesudah orang itu diberi minum, Rasulullah memerintahkan dengan sopan kepadanya, “Ucapkanlah “Tiada tuhan selain Allah.”” Si Musyrik menjawab, “Aku tidak akan mengucapkannya.” Rasulullah berkata lagi, “Katakanlah: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”” Namun orang itu tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengatakannya.”

Rasulullah SAW. Kemudian memutuskan untuk membebaskan orang itu. Tak lama kemudian orang musyrik itupun bangkit dan pergi seolah-olah hendak kembali ke negerinya. Tapi belum seberapa jauh ia melangkah dari masjid dia kembali kepada Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Rasulullah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”

Orang itu menjawab, “Aku tidak mau mengucapkannya ketika aku masih belum kau bebaskan karena aku khawatir ada orang yang menganggap aku masuk Islam karena aku takut kepadamu. Akan tetapi setelah aku dibebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah Robbul ‘alamin.”

Pada suatu kesempatan Tsamamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tidak ada seorangpun yang paling aku benci lebih dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota ini, tidak seorang pun di muka bumi ini yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”

Read full post >>

Hadiah Untuk Seorang Pemimpin

Rabu, 14 Mei 2008 0 komentar


Pada suatu malam seorang utusan dari Azerbaijan datang memasuki kota Madinah. Utusan itu berniat menemui Amirul Mu’minin(Pemimpin kaum Mu’minin) Umar bin Khattab Ra. Karena hari sudah malam maka ia memutuskan untuk bermalam di masjid Rasulullah saw. Ketika hendak tidur di malam yang hening dan dingin itu sang utusan mendengar suara seseorang yang tengah berdo’a kepada Allah seraya menangis. “Ya Robbi, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima taubatku supaya aku bisa mengucapkan selamat kepada diriku atau apakah Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan rasa duka citaku kepada diriku.”

Utusan Azerbaijan itu terkesan dengan ucapan lelaki tersebut, ia merasa sulit memejamkan mata hingga pikirannya pun dipenuhi rasa penasaran siapa gerangan orang yang berdo’a di masjid pada malam yang dingin dan telah larut begini. Maka didekatinyalah orang itu seraya berkata, “Wahai saudaraku, kalau boleh aku tahu, siapakah engkau?”

“Aku Umar bin Khattab.” Jawab lelaki itu.

Utusan Azerbaijan itu amat terkejut tatkala mengetahui lelaki yang tengah berdo’a dengan khidmat dan kini sedang berbicara dengannya itu adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab. Utusan tersebut segara memeperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dirinya memutuskan untuk bermalam di masjid itu sebelum menghadap Amirul Mu’minin keesokan harinya, tak lupa utusan tersebut menyampaikan rasa keheranannya atas keberadaan Amirul Mu’minin di Masjid pada malam yang hening itu.

Khalifah menjawab rasa heran utusan itu dengan singkat. “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk maka akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan kalau aku tidur sepanjang hari berarti aku telah menghilangkan rakyatku.”

Seusai mendirikan shalat fajar, Khalifah Umar mengajak tamunya pergi ke rumahnya. Khalifah Umar berkata kepada istrinya, “Ya Ummu Kultsum, keluarkanlah makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”

Istrinya menjawab, “Kami tidak mempunyai makanan selain roti dan garam.” “Tidak mengapa,” jawab Umar. Maka kemudian keduanya makan roti dan garam.

Sesudah makan Khalifah Umar menanyakan maksud kedatangan tamunya.
Utusan Azerbaijan itu menjawab, “Aku adalah utusan negeri Azerbaijan. Amirku memerintahkan aku membawa hadiah ini untuk baginda.”

Umar bin Khattab berkata, “Bukalah bungkusan itu, apa isinya?” Sesudah dibuka ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. Utusan Azerbaijan itu menambahkan, “Gula-gula ini khusus buatan Azerbaijan.

Umar Ra bertanya lagi, “Apakah semua kaum Muslimin mendapat kiriman gula-gula itu?”

Utusan Azerbaijan itu tertegun sejenak, lalu dia menjawab, “Tidak Baginda, gula-gula ini khusus untuk Amirul Mu’minin.”

Mendengar jawaban ini Umar marah sekali. Dia lalu memerintahkan kepada utusan tersebut untuk membawa gula-gula itu ke masjid dan memebagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum muslimin yang berada di sana. Umar berkata dengan nada marah, “Barang itu haram masuk ke perutku kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan kamu cepat-cepatlah kembali ke negerimu. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia megulangi perbuatannya kembali maka akan kupecat dia dari jabatannya!”

Read full post >>

Menjauhi Keserakahan

Selasa, 13 Mei 2008 0 komentar


Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rasulullah dengan membawa sepotong daging dan meminta Rasulullah bersedia menerima daging itu untuk dibagikan kepada fakir miskin yang membutuhkannya. Saat itu para fakir miskin yang berada di masjid nabawi sudah makan malam. Rasulullah bertanya kepada mereka, “Adakah diantara kalian yang masih mau memakan daging itu?” Mereka menjawab serentak, “Tidak, ya Rasulullah. Bukankah kami sudah makan malam.” Mendengar jawaban mereka Rasulullah segera meminta Abu Hurairah untuk mengantarkan daging itu kepada Ummul Yatama, seorang wanita yang ditinggal suaminya dan memiliki beberapa orang anak.

Setibanya didepan rumah wanita itu, Abu Hurairah mengetuk pintu rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan wanita muslimah yang tidak membiarkan seorang lelaki memasuki rumah tanpa keberadaan suaminya, maka wanita itupun menjawab, “Siapa di luar?” Abu Hurairah menjawab, “Saya. Abu Hurairah. Saya diutus Rasulullah untuk memberikan daging ini kepada anda dan anak-anak anda. Namun wanita itu menjawab dengan ramah, “Sampaikan salamku untuk Rasulullah saw. Semoga beliau dan anda mendapat balasan yang setimpal atas kemurahan ini. Alhamdulillah aku dan anak-anakku sudah makan dan kini mereka semua sudah tidur.

Abu Hurairah masih berharap agar wanita itu bersedia menerima daging yang dibawanya, ia pun berkata, “Terima saja ya Ummul Yatama, Anda dapat memberikan daging ini kepada anak-anak anda setelah mereka bangun besok pagi.” Namun wanita itu tetap menolak seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, siapa yang bisa menjamin bahwa kami akan hidup hingga esok pagi? Bawa saja daging itu dan berikanlah kepada orang yang lebih fakir dari kami.”

Read full post >>