Undangan Makan
Sabtu, 27 Desember 2008 Label: Kisah Islami 0 komentar
Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi adalah pemimpin Irak di masa pemerintahan Khalilifah Abdul Malik bin Marwan dari dinasti Bani Umayyah. Al-Hajjaj memiliki kebiasaan, bila hendak makan ia harus ditemani.
Pada suatu hari Al-Hajjaj pergi dengan rombongan untuk berburu di padang pasir. Ketika waktu makan siang tiba ia pun mengutus para pengawalnya untuk mencarikan teman makan baginya, akan tetapi para pengawal itu tidak menemukan siapapun selain seorang badui yang sedang tidur di kaki bukit.
Pengawal Hajjaj segera memgangunkan orang badui itu dari tidurnya. Orang badui itu bertanya pada mereka, “Mengapa kalian membangunkan aku. Semoga Allah merahmati kalian.”
“Kami mengundang anda untuk makan siang bersama Pemimpin Irak. Tahukah engkau siapa dia?” Para Pengawal Hajjaj menjelaskan.
“Ya, aku tahu. Dia adalah al-Hajjaj bin Yusuf.”
Kemudian pengawal itu membawa si badui ke hadapan Al-Hajjaj. Setiba di hadapannya, Al-Hajjaj bertanya bertanya kepadanya, “Tahukah engkau siapa aku?”
Orang badui itu menjawab dengan tenang, “Ya, aku tahu. Engkau adalah al-Hajjaj bin Yusuf, pemimpin Irak.”
Al-Hajjaj kemudian berkata lagi, “Silakan duduk, temani aku makan siang!”
Orang badui itu menjawab dengan cepat, “Maaf, aku telah menerima undangan makan dari yang yang lebih besar dari Anda.”
Al-Hajjaj penasaran, maka dia bertanya, “Siapa yang lebih besar dari aku yang mengundangmu, hai badui?”
Orang badui itu menjawab lagi, “Hari ini aku sedang shaum, dan diundang makan oleh Allah Ta’ala.”
Al-Hajjaj bertanya lagi dengan penuh keheranan, “Mengapa engkau berpuasa pada hari sepanas ini?”
“Ya Hajjaj, Aku melakukannya untuk menangkal hari yang lebih panas dari hari ini!”
Dengan setengah memaksa Al-Hajjaj terus membujuk orang badui itu, “Ya akhil arab, besok saja engkau berpuasa. Hari ini batalkanlah puasa anda dan makanlah bersamaku.”
Tetapi orang badui itu menjawab dengan tegas, “Tidak, Hajjaj! Apakah engkau tahu pasti bahwa aku akan hidup hingga besok pagi?!”
Karena Hajjaj terus menerus mendesaknya maka orang badui itu akhirnya berkata tegas, “Ya Hajjaj, sebenarnya apa yang engkau inginkan dariku?”
Al-Hajjaj menjawab dengan nada menyerah, “Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa.”
“Kalau begitu, lepaskanlah aku bersama Allah!”
Maka Al-Hajjaj pun melepaskan orang badui itu dan membiarkannya pergi.

