ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Panggilan pintu surga

Kamis, 23 Oktober 2008 0 komentar


Pada Suatu hari sesudah shalat dzuhur bersama para sahabatnya, Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, "Siapa diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?"

Abu Bakar Assidiq menjawab, "Saya, ya Rasulullah."

Lalu beliau saw. bertanya lagi, "Siapa diantara kalian yang bersedekah kepada orang miskin pada hari ini?"

"Saya, ya Rasulullah," Abu Bakar Ra menjawab lagi.

"Siapa diantara kalian yang mengantarkan jenazah pada hari ini?"

Masih jawaban Abu Bakar, "Saya, ya Rasulullah!"

Untuk yang kesekian kalinya Rasulullah masih bertanya, "Siapa diantara kalian yang mendamaikan dua orang yang berselisih pada hari ini?"

Abu Bakar menjawab lagi, "Saya, ya Rasulullah."

Maka Rasulullah saw. bersabda: "Tidak seorang mu'min pun yang melakukan perangai yang baik seperti itu melainkan ia kelak akan dipanggil dari semua pintu surga.

Abu Bakar Ra bertanya, "Bagaimana kalau semuanya dikerjakan, ya Rasulullah?"

Rasulullah saw. menjawab, "Kalau semua pintu surga memanggil umatku, tentu engkaulah orang pertama yang akan memasukinya, ya Abu Bakar ....!"

Read full post >>

Buah keshalihan

0 komentar



Tatkala seorang laki-laki shalih bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah, secara tiba-tiba dia melihat sebuah apel yang berasal dari kebun buah-buahan jatuh keluar pagar. Terbitlah air liur Tsabit saat melihat apel yang merah ranum tergeletak di tanah, apalagi ketika itu hari terasa panas menyengat dan dirinya tengah kehausan. Tanpa berpikir panjang Tsabit segera memungut dan memakan buah apel yang lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya dimakan dirinya teringat bahwa buah apel itu bukanlah miliknya dan dia pun belum mendapat izin dari pemilik buah itu untuk memakannya. Maka ia segera pergi memasuki kebun buah-buahan itu hendak menemui pemiliknya agar si pemilik menghalalkan buah yang telah dimakannya. Tatkala dirinya bertemu dengan seorang lelaki di kebun itu langsung saja dia berkata, “Aku sudah makan setengah dari buah apel ini. Aku berharap anda menghalalkannya.” Lelaki yang ditemuinya itu serta merta menjawab, “Aku bukan pemilik kebun ini. Aku adalah pembantunya yang ditugaskan untuk merawat dan mengurusi kebunnya.” Dengan nada penuh penyesalan Tsabit bertanya lagi, “Dimanakah rumah pemilik kebun ini? Aku akan datang menemuinya dan minta agar dia menghalalkan buah apel yang telah kumakan ini.”

Pengurus kebun itu memberitahukan, “Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam.” Tsabit bin Ibrahim segera meneguhkan tekad untuk pergi menemui si pemilik kebun itu, iapun menjawab kalimat lelaki itu, “Tidak mengapa. Aku akan tetap menemuinya meskipun tempat tinggalnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena kumakan tanpa seizin pemiliknya. Bukankah Rasulullah saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya: ‘Siapa yang tubuhnya tumbuh dari sesuatu yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka.’”

Setelah menempuh perjalanan sehari semalam Tsabit pun tiba di rumah pemilik kebun itu dan setibanya disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan seraya berkata, “Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur memakan setengah dari buah apel tuan yang jatuh keluar kebun tuan, karena itu maukah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu?” Lelaki tua yang ada dihadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Selang beberapa detik secara tiba-tiba lelaki itu menjawab, “Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat.” Tsabit terkejut mendengar jawaban lelaki itu, dirinya merasa khawatir dengan syarat itu karena takut tidak bisa memenuhinya. Maka segera dia bertanya, “Apa syarat itu tuan?”

Orang itu menjawab, “Engkau harus mau mengawini puteriku!” Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, “Apakah hanya karena aku telah memakan setengah buah apelmu yang keluar dari kebunmu, aku harus mengawini puterimu?”

Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan ucapannya, “Sebelum pernikahan dimulai terlebih daulu engkau harus mengetahui kekurangan-kekurangan puteriku itu. Dia seorang yang buta, bisu dan tuli. Lebih dari itu dia juga seorang yang lumpuh!” Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikirdalam hatinya, apakah perempuan seperti itu patut dia persunting sebagai istri gara-gara setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya?

Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, “Selain memenuhi syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan!”

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, “Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Robbul ‘alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta’ala.”

Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua orang saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Seusai akad nikah Tsabit dipersilakan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak memasuki kamar pengantin dia berpikir bahwa dirinya akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu karena dirinya yakin bahwa malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum…” Tak disangka sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit hendak menghampiri istrinya itu, wanita itupun mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya. Tsabit sempat terhentak mendapati kenyataan ini. ‘Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamku dengan baik. Jika demikian wanita yang ada dihadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula,’ kata Tsabit dalam hati. Tsabit berpikir, mengapa ayahnya menyampaikan berita yang bertentangan dengan kondisi yang sebenarnya?

Setelah Tsabit duduk di samping istrinya, dia bertanya, “Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta, mengapa?” Wanita itu menjawab, “Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak menjadikan ridha Allah terhadapnya.” “Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?” Tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini telah sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan membenarkan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, “Aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya menggunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta’ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta’ala.”

Read full post >>

4 tanda orang yang celaka

0 komentar

Rasulullah saw. pernah bersabda : 4 Tanda orang yang celaka yaitu

• melupakan dosa-dosa masa lalu, padahal semuanya tercatat dengan rapi dan detail di sisi-Nya;

• selalu mengenang kebaikan yang pernah dilakukan di masa lalu, padahal belum diketahui apakah amal kebaikan itu diterima Allah atau tidak;

• dalam soal duniawi selalu memandang kepada golongan yang lebih atas (sehingga dirinya jarang bersyukur);

• dalam soal agama selalu memandang kepada golongan yang lebih rendah (ibadah dan ketaatannya kepada Allah).

Read full post >>

Pembagian hasil ladang

Sabtu, 18 Oktober 2008 0 komentar


Ketika sedang berjalan, seorang sahabat yang mulia - Abu Qallabah Ra. - melihat gumpalan awan yang berarak-arak di langit bergerak menuju suatu tempat, tak lama kemudian beliau bagaikan mendengar sebuah suara yang memerintahkan awan-awan itu : "Siramkanlah airmu ke ladang si Fulan!" Abu Qallabah begitu penasaran akan peristiwa tersebut hingga beliaupun terus berjalan mengikuti kemana awan-awan itu pergi berarak. Setelah sampai di suatu hamparan ladang, awan-awan tersebut menumpahkan air hujan seluruhnya ke ladang itu.


Setelah hujan lebat usai, Abu Qallabah berusaha menemui pemilik ladang itu. Tak lama setelah menjumpai si empunya ladang Abu Qallabah pun bertanya, "Wahai saudaraku, apa yang telah anda lakukan selama ini sehingga ladang anda begitu subur karena seringnya disirami air hujan?"


Si pemilik ladang menjawab pertanyaan Abu Qallabah dengan penuh kerendahan hati, "Wahai sahabat, yang kulakukan selama ini hanyalah; bila aku diberi karunia oleh Allah Ta'ala berupa hasil ladang, aku selalu membagi hasil panennya menjadi tiga bagian. Satu bagian kuberikan kepada fakir miskin, satu bagian untuk diri dan keluargaku, dan satu bagian lagi kupakai untuk membeli bibit untuk ditanam kembali."

Read full post >>

Lebih takut kepada manusia

Kamis, 16 Oktober 2008 0 komentar


Pada suatu hari seusai mengimami shalat Ashar, Khalifah Umar bin Khatthab Ra. menanyakan tentang kabar salah seorang sahabat yang tidak menghadiri shalat jama'ah. Salah seorang sahabat berkata, "Kabarnya dia sakit, ya Amirul Mu'minin!"

Maka Umar Ra. memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Setiba di sana ia ketuk pintu
rumahnya, dan dari dalam sahabat itu bertanya, "Siapa yang mengetuk pintu?"

Dari luar Umar menjawab, "Umar bin Khatthab!"

Mengetahui yang datang adalah Amirul Mu'minin, orang itu berlari dengan sigap untuk segera membuka pintu. tapi ketika kedua mata Umar bin Khatthab bertatapan dengan kedua mata sahabat itu, Umar bertanya dengan nada menegur, "Mengapa engkau tidak shalat jama'ah bersama kami? Padahal Allah Ta'ala telah memanggil engkau dari atas langit ketujuh: "Hayya'alasshalah!" (mari ber-shalat), akan tetapi engkau tidak menyambutnya! Sedangkan panggilan Umar bin Khattab sempat membuatmu gelisah dan ketakutan!"

Read full post >>