ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Siluet Jiwa

Rabu, 15 Juli 2009 0 komentar


Andai bisa, ingin diri ini kembali ke saat itu. Saat yang sangat singkat namun juga sangat menyenangkan. Saat jiwa ini melanglang ke puncak langit hingga terasa begitu dekat dengan Sang Khalik. Saat dimana detak jantung dan hembusan napas jelas terdengar mengiringi setiap langkah, menyuarakan napas kebebasan. Belenggu kegalauan, kecemasan dan rasa takut seketika pudar tergantikan oleh ketenangan yang tiada tara. Saat itu senandung jiwa terus terlantun mengucap harap pada sang pencipta, Ya Alloh, biarkanlah rasa ini menyelubungi hati hamba lebih lama.

Dan rasa itupun berangsur pudar seiring berhembusnya hawa nafsu dalam diri, yang memperbudak jiwa agar mengendus kenikmatan duniawi. Sesaat jiwa ini terlena, terbuai oleh kesenangan berujung sesal hingga kecemasan pun kembali merantai diri.

Namun rasa itu masih tersimpan dalam diri seakan mencari peluang untuk kembali, menanti dan terus menanti, berharap agar raga ini kembali bersimpuh dihadapan-Nya sehingga ia dapat kembali menaungi hati.

Kian hari jejak sang rasa kian tak pasti seiring bertahtanya nafsu dalam diri. Sang nafsupun kerap menghembuskan kata-kata dalam hati bahwa jiwa ini telah terbeli, tak ada guna menggapai sang rasa yang tak pasti, bagai menggapai puncak gunung tak berujung, tak ada guna terus mendaki bila kenikmatan duniawi senantiasa tersaji.

Lambaian perpisahan tak lagi mengiris hati dan dalam lelap sang rasa pun berbisik,

Duhai sang jiwa, lihatlah dirimu kini! Dahulu kau mulia kini kau sengsara, dahulu kau bahagia kini kau menderita, dahulu hatimu tentram kini hatimu galau, dahulu ucapanmu bermakna kini ucapanmu sia-sia, dahulu pandanganmu selamat kini pandanganmu khianat, dahulu niatmu tulus kini niatmu bulus, dahulu langkah kakimu mengundang rahmat kini langkah kakimu terlaknat, dahulu kau tak takut mati kini banyak hal yang kau takuti.

Kutinggalkan sejumput diriku di dasar hatimu, sebagai imbalan atas jerih payahmu saat meraihku dulu. Ingatlah pula satu pesanku, janganlah kau mati saat begini.

Duhai sang rasa, raihlah jiwa ini, rengkuhlah ia erat-erat, agar nafsu tak sanggup lagi melekat ...

0 komentar: to “ Siluet Jiwa so far...