Bekerja sampai ke negeri Cina (bagian 2)
Minggu, 25 Januari 2009 Label: Kisah Pribadi 0 komentarTata letak gedung maupun jalan raya di kota itu benar-benar rapi. Unsur alami berupa taman, bukit kecil dan pantai tidak hanya dipertahankan tetapi juga dipercantik sehingga kota ini menjadi salah satu kawasan wisata bagi penduduk negeri Cina.
Selama empat puluh menit perjalanan dari hotel menuju ke kantor, tidak sekalipun kami terjebak kemacetan (hal yang sama saya perhatikan juga berlaku di arah sebaliknya), padahal saat itu jam menunjukkan angka 08.45, saat dimana beribu-ribu pengendara maupun pejalan kaki tengah menempuh perjalanan menuju tempat kerja mereka. Selama perjalanan saya bahkan sempat melihat beberapa mobil yang langsung berbalik memutar arah tanpa menemui kesulitan. Suatu kondisi yang nampaknya mustahil dilakukan oleh para pengendara mobil di negeriku tercinta.
Disamping pemandangan yang indah dan sejuk, kota itu juga bersih. Tatkala saya sibuk memutar otak mengapa di kota ini kita sulit menemukan onggokan sampah, Alloh swt memberikan jawaban-Nya kepada saya. Seorang wanita melintas di pinggir jalan dengan mengendarai sepeda kayuh, sesekali ia menghentikan kayuh sepedanya untuk memungut sejumput sampah di jalanan. Dengan menggunakan kayu pencapit wanita itu memasukkan setiap sampah yang ia dapat ke kantung plastik yang terpasang rapi di sepedanya. Namun saking bersihnya jalanan aksi pungut sampah semacam itupun jarang ia lakukan.
Hal yang agak janggal ditemui di wilayah perkotaan pada jam sibuk bekerja adalah terlihatnya sekelompok orang yang tengah menikmati indahnya pemandangan laut serta taman yang menghiasi trotoar jalan. Mereka tampak asyik menikmati keindahan alam tanpa terpengaruh oleh lalu lalang bis umum yang mengangkut puluhan penumpang. Melihat cara mereka menikmati keindahan alam serta menghirup udara pagi ternyata mampu menghadirkan efek tenang di hati saya, ''ternyata tidak semua orang tengah 'dikejar oleh sesuatu' di pagi itu''.
Memasuki wilayah perkantoran yang berada di kawasan berikat, waktu telah menunjukkan pukul 08.30. Hanya satu ucapan saya yang saya rasa bisa dipahami oleh si pengendara mobil selama saya menumpang, 'sye sye' dan dia pun menjawab dengan kalimat yang tidak saya pahami. Melewati meja resepsionis, Carrie menyapa saya dan sayapun balas menyapanya. Sebelum saya sempat bertanya tentang pesanan saya, dia lebih dulu memberi penjelasan.
''Edwin, I put your order - the man thou - on your table. Hope you enjoy the food.''
Setelah mengucap terima kasih kepadanya, saya bergegas menuju meja saya di lantai tiga. Sesaat saya tertegun tatkala mendapati enam potong makanan di dalam plastik transparan diatas meja saya. Setelah mengeluarkan salah satu diantaranya dari dalam plastik dan mengamati dengan lebih seksama yakinlah saya bahwa di negara saya makanan itu bernama 'bak paw'. Sayangnya keenam bak paw ini tanpa isi. Saya mulai memutar otak untuk menemukan paduan makanan yang cocok dengan bak paw tanpa rasa ini, pastinya makanan ini tidak bisa saya nikmati tanpa dipadu dengan makanan lain. Tapi makanan apa yang cocok disandingkan dengannya? Senyum lebar menghias wajah saya tatkala seorang pelayan menawari saya secangkir kopi.
Setelah saya coba memadukan bak paw kosong itu dengan kopi manis, saya harus mengakui bahwa rasanya sedikit aneh. Tapi rasa aneh itu makin terasa ketika Li Geng dan seorang temannya memergoki saya yang tengah berusaha menikmati makanan itu. Ah, masa bodoh, yang penting saya nggak kelaparan!
Di waktu istirahat saya tidak bergabung dengan Bob untuk mengambil makan siang di kantin, sebagai gantinya saya menyiapkan diri untuk melaksanakan shalat dzuhur yang sudah diniatkan akan saya jama dengan shalat Ashar. Pengalaman sulitnya mempersiapkan shalat dzuhur dan ashar di hari kemarin sudah saya antisipasi di pagi ini dengan membawa bekal berupa beberapa lembar kertas koran dan sepasang sandal plastik. Tatapan aneh memang selalu tampak di wajah mereka yang tak mengerti. Mengapa saya harus berjalan didalam kantor menuju toilet dengan menggunakan sandal plastik? Mengapa saya harus menaikkan kaki di atas wastafel untuk membasuhnya? Mengapa saya harus membenamkan kepala saya di lantai saat bersujud? Ah, biarlah saya memberi pelajaran kepada mereka bahwa hidup itu tidaklah melulu hanya bekerja atau mencari kesenangan.
Tatkala jam menunjukkan pukul empat, satu jam menjelang berakhirnya waktu kerja, perut saya kembali terasa lapar. Dengan setengah memaksa saya kembali menjejalkan sisa man thau ke mulut saya. Ingin rasanya saya segera tiba di hotel tempat saya menginap, disana saya bisa bebas memasak lalu menikmati makanan favorit saya (selama saya berada di negeri itu), apalagi kalau bukan semangkuk mie instan rebus yang sengaja saya bawa dari Jakarta. Wah nikmatnya!

