ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Memanfaatkan Fasilitas Milik Orang Lain

Minggu, 25 Mei 2008 0 komentar


Pada masa kehidupan Imam Ahmad bin Hambal, pernah datang seorang wanita kepada sang Imam yang hendak meminta fatwa atas suatu pengalaman yang baru dialami oleh wanita itu.

“Wahai pelita umat Islam, sesungguhnya saya ini perempuan miskin. Saking miskinnya hingga lampu untuk menerangi rumah pun kami tak punya. Karena saya harus mengurus pekerjaan rumah pada siang hari maka saya hanya memiliki kesempatan untuk mencari makan bagi kami sekeluarga pada malam harinya. Yang dapat saya lakukan untuk menopang kebutuhan kami sekeluarga adalah dengan merajut benang. Rajutan benang hasil kerja saya itu selanjutnya saya jual ke pasar. Untuk melakukan pekerjaan itu biasanya saya menunggu saat munculnya bulan karena cahayanya cukup untuk menerangi kegiatan merajut benang “ Dengan wajah bimbang wanita itu menuturkan latar belakang kehidupannya

Setelah Imam Ahmad bin Hambal mendengarkan penuturan wanita itu dengan seksama, ia pun bertanya, “Apa permasalahan yang anda hadapi?”.

“Beberapa malam yang lalu lewatlah di depan rumah saya serombongan kafilah. Mereka membawa lampu-lampu yang banyak. Cahaya lampu itu demikian terang benderang sehingga mampu menerangi gelapnya malam. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu sehingga tatkala rombongan mereka lewat saya pun menggunakan kesempatan itu untuk memintal beberapa lembar kapas.” Wanita itu melanjutkan kisahnya dengan wajah tertunduk penuh kekhawatiran. “Adapun yang ingin saya tanyakan adalah : Apakah uang hasil penjualan benang yang saya pintal di bawah cahaya lampu milik rombongan kafilah itu halal bagi saya?”

Imam Ahmad bin hambal mendengarkan kisah wanita itu dengan seksama, tercetuslah suatu kekaguman di hati Imam Ahmad atas sifat yang dimiliki wanita itu. Tak lama kemudian sang Imam pun balik bertanya. “Siapakah sesungguhnya anda wahai ummi? Anda menaruh perhatian yang demikian besar terhadap perkara agama di zaman ini, pada saat masyarakat Islam telah dikuasai oleh kekikiran dan kelalaian terhadap harta.”

Dengan penuh kerendahan hati wanita itu menjawab, “Saya adalah saudara perempuan Basyar Al Hafi Rahimahullah.”

Seketika jawaban wanita itu membuat Imam Ahmad menangis tersedu-sedu. Ia teringat akan sosok Basyar Al Hafi, seorang gurbernur yang shalih dan mutashawwir yang lurus hati. Selama beberapa saat Imam Ahmad terpaku, seakan tidak mampu menjawab pertanyaan wanita itu. Beliau lalu berdoa dan memohon rahmat atas gurbernur yang shalih itu.

Dengan masih berlinang air mata Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Wahai ummi, sesungguhnya kain cadar yang menutup wajah anda lebih baik daripada sorban-sorban yang menutupi kepala kami. Sesungguhnya kesungguhan kami-kami ini dalam beragama tidaklah patut jika dibandingkan kesungguhan orang-orang yang telah mendahului kami. Sedangkan anda sayyidati, demikian tinggi ketakwaan dan rasa takut anda kepada Allah SWT. Tentang pertanyaan yang anda ajukan, sebenarnya tanpa izin rombongan kafilah itu maka uang hasil penjualan benang tersebut tidaklah halal bagi anda.”

Mendengar jawaban yang disampaikan Imam Ahmad, perajut benang itu tersenyum penuh keikhlasan.

Read full post >>

5 Ketergesa-gesaan yang baik

Sabtu, 17 Mei 2008 0 komentar




Hatim Al - Asham rahimahullah berkata, "Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan kecuali dalam lima hal, sebab yang lima hal itu termasuk sunnah Rasulullah SAW. …..




  • segera memberi jamuan kepada tamu apabila ia telah masuk kedalam rumah;


  • segera mengubur mayat jika sudah jelas sebab kematiannya;


  • segera menikahkan anak perempuan jika ia sudah dewasa;


  • segera membayar hutang jika telah tiba waktu pembayarannya;


  • segera bertaubat ketika terlanjur melakukan maksiat.

Read full post >>

Melunakkan Hati dengan Sayang

Kamis, 15 Mei 2008 0 komentar


Diriwayatkan, seorang lelaki bangsa Arab bernama Tsamamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah, pergi ke kota Madinah Al Munawarah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Muhammad SAW. Dengan tekad bulat dan semangat kuat ia pergi mendatangi majelis Rasulullah SAW.

Umar bin Khattab yang sudah mencium maksud jahat kedatangan orang itu segera menghampirinya dan langsung mengusut, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang Musyrik?!”

Orang itu dengan terang-terangan berkata, “Aku datang ke kota ini hanya untuk membunuh Muhammad!!”

Mendengar perkataan keji itu Umar dengan cepat dan tangkas langsung melucuti pedangnya sekaligus meringkus orng itu. Kemudian orang itu diikat di salah satu tiang masjid.

Umar bin Khattab segera melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah namun Rasulullah SAW yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam tidaklah menanggapi positif perbuatan sahabatnya itu. Rasulullah segera keluar meninggalkan rumahnya untuk menemui orang yang hendak membunuhnya. Setelah tiba di tempat yang ditunjukkan, Rasulullah mengamati wajah orang yang hendak membunuhnya, sementara itu Umar sudah tidak sabar menunggu perintahnya untuk memenggal leher orang yang bermaksud jahat itu.

Sesudah mengamati wajah orang itu dengan cermat Rasulullah lalu menoleh kepada para sahabatnya dan bertanya, “Apakah ada diantara kalian yang sudah memberinya makan?”

Umar terdiam sejenak mendengar pertanyaan tersebut. Dirinya yang sejak tadi menunggu diperintah membunuh malah ditanya tentang pemberian makan kepada orang itu. Umar seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya maka dia bertanya, “Makanan apa yang baginda maksudkan, ya Rasulullah? Makanan apa yang dia makan? Orang ini datang kesini sebagai pembunuh, bukan datang untuk masuk Islam!” namun Rasulullah tidak menghiraukan ucapan Umar bahkan beliau memerintahkan, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku dan buka tali pengikat orang itu!”

Diam-diam Umar bin Khattab memendam amarahnya yang begitu besar pada si Musyrik itu. Sesudah orang itu diberi minum, Rasulullah memerintahkan dengan sopan kepadanya, “Ucapkanlah “Tiada tuhan selain Allah.”” Si Musyrik menjawab, “Aku tidak akan mengucapkannya.” Rasulullah berkata lagi, “Katakanlah: “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”” Namun orang itu tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengatakannya.”

Rasulullah SAW. Kemudian memutuskan untuk membebaskan orang itu. Tak lama kemudian orang musyrik itupun bangkit dan pergi seolah-olah hendak kembali ke negerinya. Tapi belum seberapa jauh ia melangkah dari masjid dia kembali kepada Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi “Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Rasulullah bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?”

Orang itu menjawab, “Aku tidak mau mengucapkannya ketika aku masih belum kau bebaskan karena aku khawatir ada orang yang menganggap aku masuk Islam karena aku takut kepadamu. Akan tetapi setelah aku dibebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keridhaan Allah Robbul ‘alamin.”

Pada suatu kesempatan Tsamamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tidak ada seorangpun yang paling aku benci lebih dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota ini, tidak seorang pun di muka bumi ini yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”

Read full post >>

Hadiah Untuk Seorang Pemimpin

Rabu, 14 Mei 2008 0 komentar


Pada suatu malam seorang utusan dari Azerbaijan datang memasuki kota Madinah. Utusan itu berniat menemui Amirul Mu’minin(Pemimpin kaum Mu’minin) Umar bin Khattab Ra. Karena hari sudah malam maka ia memutuskan untuk bermalam di masjid Rasulullah saw. Ketika hendak tidur di malam yang hening dan dingin itu sang utusan mendengar suara seseorang yang tengah berdo’a kepada Allah seraya menangis. “Ya Robbi, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima taubatku supaya aku bisa mengucapkan selamat kepada diriku atau apakah Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan rasa duka citaku kepada diriku.”

Utusan Azerbaijan itu terkesan dengan ucapan lelaki tersebut, ia merasa sulit memejamkan mata hingga pikirannya pun dipenuhi rasa penasaran siapa gerangan orang yang berdo’a di masjid pada malam yang dingin dan telah larut begini. Maka didekatinyalah orang itu seraya berkata, “Wahai saudaraku, kalau boleh aku tahu, siapakah engkau?”

“Aku Umar bin Khattab.” Jawab lelaki itu.

Utusan Azerbaijan itu amat terkejut tatkala mengetahui lelaki yang tengah berdo’a dengan khidmat dan kini sedang berbicara dengannya itu adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab. Utusan tersebut segara memeperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dirinya memutuskan untuk bermalam di masjid itu sebelum menghadap Amirul Mu’minin keesokan harinya, tak lupa utusan tersebut menyampaikan rasa keheranannya atas keberadaan Amirul Mu’minin di Masjid pada malam yang hening itu.

Khalifah menjawab rasa heran utusan itu dengan singkat. “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk maka akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan kalau aku tidur sepanjang hari berarti aku telah menghilangkan rakyatku.”

Seusai mendirikan shalat fajar, Khalifah Umar mengajak tamunya pergi ke rumahnya. Khalifah Umar berkata kepada istrinya, “Ya Ummu Kultsum, keluarkanlah makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”

Istrinya menjawab, “Kami tidak mempunyai makanan selain roti dan garam.” “Tidak mengapa,” jawab Umar. Maka kemudian keduanya makan roti dan garam.

Sesudah makan Khalifah Umar menanyakan maksud kedatangan tamunya.
Utusan Azerbaijan itu menjawab, “Aku adalah utusan negeri Azerbaijan. Amirku memerintahkan aku membawa hadiah ini untuk baginda.”

Umar bin Khattab berkata, “Bukalah bungkusan itu, apa isinya?” Sesudah dibuka ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. Utusan Azerbaijan itu menambahkan, “Gula-gula ini khusus buatan Azerbaijan.

Umar Ra bertanya lagi, “Apakah semua kaum Muslimin mendapat kiriman gula-gula itu?”

Utusan Azerbaijan itu tertegun sejenak, lalu dia menjawab, “Tidak Baginda, gula-gula ini khusus untuk Amirul Mu’minin.”

Mendengar jawaban ini Umar marah sekali. Dia lalu memerintahkan kepada utusan tersebut untuk membawa gula-gula itu ke masjid dan memebagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum muslimin yang berada di sana. Umar berkata dengan nada marah, “Barang itu haram masuk ke perutku kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan kamu cepat-cepatlah kembali ke negerimu. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia megulangi perbuatannya kembali maka akan kupecat dia dari jabatannya!”

Read full post >>

Menjauhi Keserakahan

Selasa, 13 Mei 2008 0 komentar


Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rasulullah dengan membawa sepotong daging dan meminta Rasulullah bersedia menerima daging itu untuk dibagikan kepada fakir miskin yang membutuhkannya. Saat itu para fakir miskin yang berada di masjid nabawi sudah makan malam. Rasulullah bertanya kepada mereka, “Adakah diantara kalian yang masih mau memakan daging itu?” Mereka menjawab serentak, “Tidak, ya Rasulullah. Bukankah kami sudah makan malam.” Mendengar jawaban mereka Rasulullah segera meminta Abu Hurairah untuk mengantarkan daging itu kepada Ummul Yatama, seorang wanita yang ditinggal suaminya dan memiliki beberapa orang anak.

Setibanya didepan rumah wanita itu, Abu Hurairah mengetuk pintu rumahnya. Sudah menjadi kebiasaan wanita muslimah yang tidak membiarkan seorang lelaki memasuki rumah tanpa keberadaan suaminya, maka wanita itupun menjawab, “Siapa di luar?” Abu Hurairah menjawab, “Saya. Abu Hurairah. Saya diutus Rasulullah untuk memberikan daging ini kepada anda dan anak-anak anda. Namun wanita itu menjawab dengan ramah, “Sampaikan salamku untuk Rasulullah saw. Semoga beliau dan anda mendapat balasan yang setimpal atas kemurahan ini. Alhamdulillah aku dan anak-anakku sudah makan dan kini mereka semua sudah tidur.

Abu Hurairah masih berharap agar wanita itu bersedia menerima daging yang dibawanya, ia pun berkata, “Terima saja ya Ummul Yatama, Anda dapat memberikan daging ini kepada anak-anak anda setelah mereka bangun besok pagi.” Namun wanita itu tetap menolak seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, siapa yang bisa menjamin bahwa kami akan hidup hingga esok pagi? Bawa saja daging itu dan berikanlah kepada orang yang lebih fakir dari kami.”

Read full post >>