ASSALAMU'ALAIKUM ..... SELAMAT DATANG DI BLOG INI ..... SELAMAT BERPARTISIPASI ..... DAN yang pasti ..... TETAP TEGAR!

Tabiat seorang pemimpin

Kamis, 02 Juli 2009 0 komentar


Sudah menjadi kebiasaan Khalifah* Umar bin Khattab melakukan penyamaran di malam hari, berkeliling ke pelosok-pelosok desa untuk mengamati keadaan rakyatnya secara langsung. Pada suatu malam beliau pergi ke pelosok dengan ditemani Abdurrahman bin Auf. Tatkala melewati suatu tempat di tengah padang pasir, dari kejauhan beliau melihat seperti ada sebuah api unggun. Setiba disana ternyata bukanlah api unggun yang beliau dapati melainkan seorang ibu yang seolah-olah sedang memasak makanan untuk anak-anaknya yang terus merengek karena lapar. Anak-anak dari wanita itu terus menangis tidak mau tidur karena tidak kuat menahan lapar. Umar lalu mendekati dan mengucapkan salam, kemudian bertanya kepada ibu yang miskin itu, "Mengapa engkau melakukan ini, berpura-pura memasak, kepada anak-anakmu?" Ibu itu hanya menjawab, "Semoga Allah menyadarkan Umar. Pantaskah ia menjadi Amirul Mu'minin sementara ia tidak tahu keadaan rakyatnya?!"

Mendengar perkataan ibu itu Umar tersentak. Ia menunduk sedih dan dengan rasa duka yang mendalam ia segera pergi ke Baitulmal. Sepanjang perjalanan ia menangis seraya beristighfar sebab ternyata dirinya belum bisa memenuhi amanah yang dipikulnya sebagai Amirul Mu'minin. Sepanjang jalan ia memohon ampun kepada Allah swt atas kelalaiannya.

Sesampai di baitul mal Umar segera membuka pintu dan mengambil sekarung gandum, sewadah minyak goreng dan madu. Ia panggul sendiri bahan-bahan makanan itu. Penjaga Baitul mal tertegun dan bingung melihat Umar seperti sedang sedih sekali. Maka dia bertanya, "Ada apakah wahai Amirul Mu'minin?" Tetapi Umar hanya berkata, "Tolong naikkan barang-barang ini ke pundakku." Penjaga Baitul Mal semakin tertegun, dia berkata, "Biarlah aku saja yang akan membawanya wahai Amirul Mu'minin." Namun Umar menjawab perkataan itu dengan nada agak keras, "Apakah engkau mau aku menanggung dosa lebih banyak lagi?!" Dibawanyalah sendiri barang-barang itu oleh Umar Ra dengan langkah cepat. Sesampai di tempat ibu yang miskin itu Umar meletakkan bahan-bahan makanan tersebut, bahkan ia yang mengolah dan memasak makanannya sendiri. Setelah matang Umar menyuapi anak-anak yatim itu hingga mereka kenyang dan tidak menangis lagi. Umar amat lega menyaksikan anak-anak itu akhirnya terbebas dari kelaparan.

Setelah itu barulah dia bangkit hendak pergi meninggalkan tempat tersebut. Ibu dari ketiga anak-anak yatim itu berkata kepada Umar, "Demi Allah, engkau lebih pantas menjadi Khalifah ketimbang Umar."

Sebelum pergi meninggalkan mereka, Umar berpesan kepada ibu itu, "Wahai ibu, datanglah besok ke tempat kekhalifahan dan adukanlah hal-ihwalmu kepadanya ..." Tatkala Umar yang ditemani Abdurrahman bin Auf hendak pergi, Umar diam sejenak dan bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia mengamati ketiga anak itu makan dengan lahapnya. Karena udara begitu dingin hingga menusuk tulang, Abdurrahman mengajaknya untuk lekas pulang. Tetapi Umar tidak bergeming dari tempatnya. Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku lihat anak-anak itu tertawa dan bergembira!"

Keesokan harinya Ibu anak-anak itu datang ke kekhalifahan. Tatkala memasuki ruang kekhalifahan ia amat terkejut melihat lelaki yang memanggul karung bahan makanan semalam duduk di tengah-tengah Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud Ra. Keduanya menyapanya dengan panggilan, "Ya, Amirul Mukminin!" Ketika tahu bahwa ternyata orang yang semalam itu adalah Amirul Mukminin sendiri, si Ibu tertegun dan amat ketakutan karena khawatir keluh kesah dan serangannya akan dipersalahkan. Tetapi Umar segera menghiburnya, dia berkata dengan ramah, "Wahai Ibu, jangan bersedih hati dan khawatir. Berapa ibu ingin menjual keluh kesah kepadaku?" Namun Ibu itu tidak menjawab pertanyaan Umar, ia berkata dengan nada ketakutan, "Aku mohon maaf, ya Amirul Mukminin."

Umar berkata lagi, "Engkau tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum menjual keluh kesahmu kepadaku..." Akhirnya transaksi jual beli keluh kesah itu terjadi dengan harga 600 dirham. Umar membayarnya dari uang pribadinya dan memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib Ra untuk membawa kertas dan pena untuk menuliskan : "Kami Ali dan Ibnu Mas'ud menjadi saksi bahwa Fulanah telah menjual keluh kesahnya kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab." Sesudah transaksi usai, Umar berkata, "Kalau aku meninggal dunia, masukkanlah kertas itu dalam kafanku sehingga aku menemui Allah Ta'ala dengan kalbu yang bersih dari kezhaliman."
*) Amirul Mukminin = Pemimpin kaum mukmin = Khalifah.

0 komentar: to “ Tabiat seorang pemimpin so far...