Hadiah Untuk Seorang Pemimpin
Rabu, 14 Mei 2008 Label: Kisah Islami 0 komentarPada suatu malam seorang utusan dari Azerbaijan datang memasuki kota Madinah. Utusan itu berniat menemui Amirul Mu’minin(Pemimpin kaum Mu’minin) Umar bin Khattab Ra. Karena hari sudah malam maka ia memutuskan untuk bermalam di masjid Rasulullah saw. Ketika hendak tidur di malam yang hening dan dingin itu sang utusan mendengar suara seseorang yang tengah berdo’a kepada Allah seraya menangis. “Ya Robbi, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima taubatku supaya aku bisa mengucapkan selamat kepada diriku atau apakah Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan rasa duka citaku kepada diriku.”
Utusan Azerbaijan itu terkesan dengan ucapan lelaki tersebut, ia merasa sulit memejamkan mata hingga pikirannya pun dipenuhi rasa penasaran siapa gerangan orang yang berdo’a di masjid pada malam yang dingin dan telah larut begini. Maka didekatinyalah orang itu seraya berkata, “Wahai saudaraku, kalau boleh aku tahu, siapakah engkau?”
“Aku Umar bin Khattab.” Jawab lelaki itu.
Utusan Azerbaijan itu amat terkejut tatkala mengetahui lelaki yang tengah berdo’a dengan khidmat dan kini sedang berbicara dengannya itu adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab. Utusan tersebut segara memeperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dirinya memutuskan untuk bermalam di masjid itu sebelum menghadap Amirul Mu’minin keesokan harinya, tak lupa utusan tersebut menyampaikan rasa keheranannya atas keberadaan Amirul Mu’minin di Masjid pada malam yang hening itu.
Khalifah menjawab rasa heran utusan itu dengan singkat. “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk maka akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan kalau aku tidur sepanjang hari berarti aku telah menghilangkan rakyatku.”
Seusai mendirikan shalat fajar, Khalifah Umar mengajak tamunya pergi ke rumahnya. Khalifah Umar berkata kepada istrinya, “Ya Ummu Kultsum, keluarkanlah makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”
Istrinya menjawab, “Kami tidak mempunyai makanan selain roti dan garam.” “Tidak mengapa,” jawab Umar. Maka kemudian keduanya makan roti dan garam.
Sesudah makan Khalifah Umar menanyakan maksud kedatangan tamunya.
Utusan Azerbaijan itu menjawab, “Aku adalah utusan negeri Azerbaijan. Amirku memerintahkan aku membawa hadiah ini untuk baginda.”
Umar bin Khattab berkata, “Bukalah bungkusan itu, apa isinya?” Sesudah dibuka ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. Utusan Azerbaijan itu menambahkan, “Gula-gula ini khusus buatan Azerbaijan.
Umar Ra bertanya lagi, “Apakah semua kaum Muslimin mendapat kiriman gula-gula itu?”
Utusan Azerbaijan itu tertegun sejenak, lalu dia menjawab, “Tidak Baginda, gula-gula ini khusus untuk Amirul Mu’minin.”
Mendengar jawaban ini Umar marah sekali. Dia lalu memerintahkan kepada utusan tersebut untuk membawa gula-gula itu ke masjid dan memebagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum muslimin yang berada di sana. Umar berkata dengan nada marah, “Barang itu haram masuk ke perutku kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan kamu cepat-cepatlah kembali ke negerimu. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia megulangi perbuatannya kembali maka akan kupecat dia dari jabatannya!”
Utusan Azerbaijan itu terkesan dengan ucapan lelaki tersebut, ia merasa sulit memejamkan mata hingga pikirannya pun dipenuhi rasa penasaran siapa gerangan orang yang berdo’a di masjid pada malam yang dingin dan telah larut begini. Maka didekatinyalah orang itu seraya berkata, “Wahai saudaraku, kalau boleh aku tahu, siapakah engkau?”
“Aku Umar bin Khattab.” Jawab lelaki itu.
Utusan Azerbaijan itu amat terkejut tatkala mengetahui lelaki yang tengah berdo’a dengan khidmat dan kini sedang berbicara dengannya itu adalah Amirul Mu’minin Umar bin Khattab. Utusan tersebut segara memeperkenalkan dirinya dan menceritakan mengapa dirinya memutuskan untuk bermalam di masjid itu sebelum menghadap Amirul Mu’minin keesokan harinya, tak lupa utusan tersebut menyampaikan rasa keheranannya atas keberadaan Amirul Mu’minin di Masjid pada malam yang hening itu.
Khalifah menjawab rasa heran utusan itu dengan singkat. “Semoga Allah merahmatimu. Aku takut bila aku tidur semalam suntuk maka akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan kalau aku tidur sepanjang hari berarti aku telah menghilangkan rakyatku.”
Seusai mendirikan shalat fajar, Khalifah Umar mengajak tamunya pergi ke rumahnya. Khalifah Umar berkata kepada istrinya, “Ya Ummu Kultsum, keluarkanlah makanan yang ada. Kami kedatangan tamu dari jauh, dari Azerbaijan.”
Istrinya menjawab, “Kami tidak mempunyai makanan selain roti dan garam.” “Tidak mengapa,” jawab Umar. Maka kemudian keduanya makan roti dan garam.
Sesudah makan Khalifah Umar menanyakan maksud kedatangan tamunya.
Utusan Azerbaijan itu menjawab, “Aku adalah utusan negeri Azerbaijan. Amirku memerintahkan aku membawa hadiah ini untuk baginda.”
Umar bin Khattab berkata, “Bukalah bungkusan itu, apa isinya?” Sesudah dibuka ternyata isi bungkusan itu adalah gula-gula. Utusan Azerbaijan itu menambahkan, “Gula-gula ini khusus buatan Azerbaijan.
Umar Ra bertanya lagi, “Apakah semua kaum Muslimin mendapat kiriman gula-gula itu?”
Utusan Azerbaijan itu tertegun sejenak, lalu dia menjawab, “Tidak Baginda, gula-gula ini khusus untuk Amirul Mu’minin.”
Mendengar jawaban ini Umar marah sekali. Dia lalu memerintahkan kepada utusan tersebut untuk membawa gula-gula itu ke masjid dan memebagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum muslimin yang berada di sana. Umar berkata dengan nada marah, “Barang itu haram masuk ke perutku kecuali kalau kaum muslimin memakannya juga! Dan kamu cepat-cepatlah kembali ke negerimu. Beritahukan kepada yang mengutusmu, kalau ia megulangi perbuatannya kembali maka akan kupecat dia dari jabatannya!”



0 komentar: to “ Hadiah Untuk Seorang Pemimpin ” so far...
Posting Komentar